Perkembangan literasi digital telah membawa perubahan mendasar dalam cara peserta didik mengakses, memproduksi, dan memaknai informasi. Di tengah banjir informasi yang cepat dan masif, pendidikan Islam menghadapi tantangan serius berupa krisis berpikir kritis, misinformasi, dan melemahnya landasan epistemologis dalam menilai kebenaran pengetahuan. Artikel ini bertujuan untuk merekonseptualisasi pendidikan Ilmu Mantiq sebagai fondasi epistemologis dalam memperkuat literasi digital pada pendidikan Islam kontemporer, dengan menempatkan perspektif pemikiran TGH. Lalu Ibrahim M. Thoyyib sebagai kerangka analisis utama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis kajian kepustakaan dengan analisis konseptual terhadap literatur klasik dan kontemporer tentang Ilmu Mantiq, literasi digital, dan pendidikan Islam. Data dianalisis secara hermeneutik dan kritis untuk mengidentifikasi keterkaitan antara prinsip-prinsip logika Islam dan kebutuhan berpikir kritis di era digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa Ilmu Mantiq memiliki potensi besar untuk direaktualisasikan sebagai instrumen pedagogis yang relevan dalam membangun kemampuan analisis, evaluasi argumen, dan refleksi etis terhadap informasi digital. Perspektif pemikiran TGH. Lalu Ibrahim M. Thoyyib menegaskan bahwa logika tidak dapat dipisahkan dari nilai moral dan tujuan pendidikan Islam. Ilmu Mantiq diposisikan sebagai sarana pembentukan keteraturan berpikir yang menuntun peserta didik menuju pemahaman yang rasional, moderat, dan bertanggung jawab. Artikel ini berargumen bahwa integrasi Ilmu Mantiq dan literasi digital tidak hanya memperkaya wacana teoretis pendidikan Islam, tetapi juga memiliki implikasi praktis bagi pengembangan kurikulum dan metode pembelajaran. Rekonseptualisasi ini diharapkan mampu memperkuat peran pendidikan Islam dalam membentuk generasi yang kritis, beretika, dan adaptif terhadap tantangan dunia digital.