Budaya siri’ dalam masyarakat Bugis–Makassar merupakan sistem kehormatan kolektif yang menempatkan perempuan sebagai representasi utama martabat keluarga sehingga membentuk pengaturan terhadap perilaku, mobilitas, dan pilihan hidup mereka. Meskipun nilai ini sering dipahami sebagai dasar kehormatan sosial, kajian yang menelaah pengalaman subjektif perempuan muda terhadap berbagai batasan yang muncul darinya masih terbatas. Studi ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana perempuan muda Bugis–Makassar mengalami dan memaknai pembatasan tersebut dalam kehidupan sehari-hari serta bagaimana pengalaman tersebut membentuk pemahaman mereka tentang diri. Pendekatan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) digunakan melalui wawancara semi-terstruktur secara mendalam dengan dua perempuan muda Bugis–Makassar. Analisis dilakukan untuk menelusuri bagaimana pembatasan tersebut dihidupi dan ditafsirkan dalam pengalaman sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehidupan dalam budaya siri’ tidak dialami sebagai penentuan budaya yang tetap, melainkan sebagai proses negosiasi berkelanjutan melalui mana perempuan muda menafsirkan dan menavigasi ekspektasi sosial. Partisipan menggambarkan bagaimana mereka mengembangkan regulasi diri reflektif, menavigasi pengawasan sosial yang dirasakan, serta membangun identitas di antara tradisi dan modernitas. Temuan ini menyoroti pengalaman hidup perempuan sebagai lensa penting untuk memahami bagaimana norma budaya bekerja dalam kehidupan sehari-hari—bukan sekadar sebagai struktur yang membatasi, tetapi sebagai kerangka makna yang diinterpretasikan dan dinegosiasikan oleh individu. Dengan memahami dinamika pengalaman tersebut, penelitian ini juga membuka ruang bagi pendekatan yang lebih peka terhadap konteks budaya dalam upaya pemberdayaan perempuan dan dialog mengenai peran gender dalam masyarakat berbasis budaya kehormatan.