Sektor pertanian Indonesia menghadapi tantangan produktivitas dan regenerasi petani, sehingga model Edu- Agrowisata menjadi solusi strategis untuk memberikan nilai tambah ekonomi dan edukasi. Penelitian ini bertujuan menyusun perencanaan tata ruang dan infrastruktur dasar yang responsif terhadap kondisi topografi curam di kawasan The Learning Farm (TLF), Kabupaten Cianjur. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif dan teknis eksperimental melalui pemetaan udara menggunakan drone DJI Mavic 2 Pro yang diolah dengan aplikasi DroneDeploy dan ArcGIS untuk menghasilkan peta Digital Elevation Model (DEM). Hasil analisis spasial menunjukkan kawasan seluas 2,4 hektar ini memiliki rentang elevasi 846 hingga 870 mdpl dengan perbedaan ketinggian ekstrem sebesar 24 meter. Kondisi morfologi tersebut diarahkan pada zonasi lahan yang menempatkan bangunan pada area stabil di dataran tinggi dan lahan pertanian pada area produktif di lereng. Infrastruktur air bersih dirancang menggunakan sistem gravitasi (Gravity-Fed System) dengan menempatkan tandon utama pada elevasi tertinggi (±868 mdpl) guna mencapai efisiensi energi dan biaya operasional. Selain itu, sistem drainase jalan diintegrasikan dengan badan air alami untuk mengendalikan limpasan air dan memitigasi risiko erosi serta banjir. Simpulan penelitian menegaskan bahwa transformasi TLF menjadi pusat Edu-Agrowisata berkelanjutan didukung oleh manajemen utilitas yang menghormati karakteristik alami lahan. Perencanaan ini menjamin keseimbangan antara efisiensi operasional pertanian, konservasi lingkungan, dan kenyamanan fasilitas edukasi. ABSTRACT Indonesia's agricultural sector faces productivity and regeneration challenges, making the Edu-Agrotourism model a strategic solution to provide economic and educational value. This study aims to develop spatial planning and basic infrastructure designs responsive to the steep topographic conditions of The Learning Farm (TLF) in Cianjur Regency. The method employed a participatory and technical experimental approach using aerial mapping via a DJI Mavic 2 Pro drone, processed with DroneDeploy and ArcGIS to generate Digital Elevation Model (DEM) maps. Spatial analysis reveals that the 2.4-hectare area has an elevation range of 846 to 870 masl with an extreme height difference of 24 meters. These morphological conditions dictate land zoning that places buildings on stable ground in the highlands and agricultural activities in productive sloped areas. Clean water infrastructure is designed as a Gravity-Fed System, positioning the main reservoir at the highest elevation (±868 masl) to achieve energy and operational cost efficiency. Furthermore, the roadside drainage system is integrated with natural water bodies to control runoff and mitigate erosion and flooding risks. The study concludes that TLF's transformation into a sustainable Edu-Agrotourism center is supported by utility management that respects the natural characteristics of the land. This planning ensures a balance between agricultural operational efficiency, environmental conservation, and the comfort of educational facilities.