Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMBELAJARAN DIGITAL STORYTELLING DALAM KONTEN MEDIA SOSIAL UNTUK GENERASI MUDA Lydia Irena; Eldiani Febyola; Michelle Augustine; Alexandra Carolina
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol. 8 No. 3 (2025): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v8i3.35954

Abstract

Indonesian teenagers currently dominate internet and social media users, with penetration rates nearly equal: 97.17% in the 19–34 age group and 99.16% in the 13–18 age group. The most frequently accessed apps include Tiktok, YouTube, Whatsapp, Instagram, and Facebook, with Tiktok leading the way in terms of monthly usage duration. Social media now serves not only as a means of communication but also as a Platform for self-expression, entertainment, and a space for creating economic opportunities. The development of social media has made the younger generation both users and producers of digital content. However, many of them do not yet understand the importance of storytelling in creating inspiring, educational, and character-building content. As a result, the content produced is often instantaneous, shallow, and even has the potential to have negative impacts. Various studies confirm that the application of digital storytelling can improve message quality, deepen communication meaning, build a positive image of the younger generation, and strengthen digital literacy. Through the integration of text, audio, visuals, and video, digital storytelling has been shown to foster learning motivation, collaboration skills, and critical and creative thinking skills. Furthermore, authentic narratives that are close to the audience's experiences strengthen trust, create emotional bonds, and help teenagers explore their identity. At the same time, SMA Santa Maria 1 Cirebon's partner also experienced limited technical skills in content production with digital storytelling and expert guidance. Therefore, the solution offered is a Student Creativity Program (PKM) titled "Digital Storytelling Learning in Social Media Content for the Younger Generation," which aligns with Tarumanagara University's PKM roadmap, namely "Building Public Awareness Towards an Information Society." The PKM was conducted through seminars and Workshops on social media content creation, emphasizing the concept of digital storytelling. The results of the activity indicate that senior high school students were able to understand the fundamental concepts of digital storytelling effectively when the learning process was delivered in an interactive and application-oriented manner. Students recognized that storytelling enhances the appeal of content. This activity also contributed to the improvement of students’ media literacy and their readiness to engage with the digitally driven creative economy.   ABSTRAK Remaja Indonesia saat ini menempati posisi sebagai pengguna internet dan media sosial paling dominan, dengan tingkat penetrasi hampir merata, yakni 97,17% pada kelompok usia 19–34 tahun dan 99,16% pada kelompok usia 13–18 tahun. Aplikasi yang paling banyak diakses meliputi Tiktok, YouTube, Whatsapp, Instagram, dan Facebook, dengan Tiktok menempati urutan pertama dari sisi durasi penggunaan bulanan. Media sosial kini berfungsi tidak hanya sebagai sarana komunikasi, melainkan juga wadah ekspresi diri, hiburan, sekaligus ruang penciptaan peluang ekonomi. Perkembangan media sosial telah menjadikan generasi muda sebagai pengguna sekaligus produsen konten digital. Namun, banyak di antara mereka yang belum memahami pentingnya narasi (storytelling) dalam membangun konten yang inspiratif, edukatif, dan berkarakter. Akibatnya, konten yang diproduksi sering bersifat instan, dangkal, bahkan berpotensi menimbulkan dampak negatif. Berbagai studi menegaskan bahwa penerapan digital storytelling mampu meningkatkan kualitas pesan, memperdalam makna komunikasi, membangun citra positif generasi muda, serta memperkuat literasi digital. Melalui integrasi teks, audio, visual, dan video, digital storytelling terbukti menumbuhkan motivasi belajar, kemampuan kolaborasi, serta keterampilan berpikir kritis dan kreatif. Lebih jauh, narasi yang autentik dan dekat dengan pengalaman audiens memperkuat kepercayaan, menciptakan ikatan emosional, sekaligus membantu remaja mengeksplorasi identitas diri. Bersamaan dengan itu, mitra SMA Santa Maria 1 Cirebon juga mengalami keterbatasan keterampilan teknis produksi konten dengan digital storytelling dan pendampingan ahli. Sehingga solusi yang ditawarkan adalah PKM bertajuk “Pembelajaran Digital Storytelling dalam Konten Media Sosial untuk Generasi Muda,” yang sejalan dengan dengan roadmap PKM Universitas Tarumanagara, yaitu "Membangun Kesadaran Publik Menuju Masyarakat Informasi". PKM dilakukan dengan metode seminar dan Workshop pembuatan konten media sosial dengan mengedepankan konsep digital storytelling. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa siswa SMA mampu memahami konsep dasar digital storytelling dengan baik ketika pembelajaran dikemas secara interaktif dan aplikatif. Siswa memahami bahwa storytelling memperkuat daya tarik konten. Kegiatan ini juga berkontribusi pada peningkatan literasi media dan kesiapan siswa menghadapi era ekonomi kreatif berbasis digital.
PEMBELAJARAN KOMUNIKASI LINGKUNGAN YANG BERTANGGUNG JAWAB PADA GENERASI Z Lydia Irena; Michelle Augustine
Jurnal Serina Abdimas Vol 3 No 4 (2025): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v3i4.37244

Abstract

Today’s global environmental challenges call for a fundamental shift in mindset and behavior toward more sustainable patterns of consumption and production. The Sustainable Development Goals (SDGs), particularly Goal 12, emphasize the importance of responsible consumption and production as the foundation of sustainable development. In this context, the younger generation—especially Generation Z—holds a strategic role as agents of change, particularly through their influence in digital spaces. This Community Service Program (Program Pengabdian kepada Masyarakat or PKM) is designed to equip Generation Z with the knowledge and skills necessary for responsible environmental communication, as part of efforts to achieve SDG 12. This program is grounded in environmental communication theory, which views communication as a vital tool in fostering awareness, critical attitudes, and collective action toward ecological issues. Through an educational approach combining seminars and workshops, participants are encouraged to understand current environmental challenges and to develop message strategies that promote behavioral change regarding consumption. Seminars serve as Platforms for delivering material and facilitating discussion, while workshops provide participatory spaces for developing media-based communication initiatives. This PKM represents an academic contribution to fostering sustainable environmental awareness among young people through a transformative communication approach, aligned with global sustainable development objectives. After the implementation of the interactive seminar and workshop, there was a significant increase in the understanding of the participants. Overall, the average increase in participants' insight rose from 3.6 to 4.6. These results reflect the effectiveness of interactive learning methods that are relevant to the characteristics of generation Z in improving environmental literacy communicatively Permasalahan lingkungan hidup global saat ini menuntut adanya perubahan pola pikir dan perilaku terhadap konsumsi dan produksi yang lebih berkelanjutan. Agenda Sustainable Development Goals (SDGs) khususnya tujuan ke-12 menekankan pentingnya pola konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan. Dalam konteks ini, generasi muda—khususnya Generasi Z—memiliki peran strategis sebagai agen perubahan, terutama melalui pengaruh mereka di ruang digital. Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini dirancang untuk membekali generasi Z dengan pemahaman dan keterampilan dalam komunikasi lingkungan yang bertanggung jawab sebagai bagian dari upaya mencapai SDG ke-12. Kegiatan ini mengacu pada teori komunikasi lingkungan yang memandang komunikasi sebagai instrumen penting dalam membangun kesadaran, sikap kritis, dan tindakan kolektif terhadap isu-isu ekologi. Melalui pendekatan edukatif berbasis seminar dan lokakarya, peserta diajak untuk mengenali tantangan lingkungan masa kini serta bagaimana membingkai pesan yang mampu mendorong perubahan perilaku konsumtif. Seminar digunakan sebagai wadah penyampaian materi dan diskusi, sedangkan lokakarya berfungsi sebagai ruang partisipatif untuk mengembangkan inisiatif komunikasi berbasis media. PKM ini merupakan bentuk kontribusi akademik dalam membentuk kesadaran lingkungan yang berkelanjutan di kalangan generasi muda melalui pendekatan komunikasi yang transformatif, sejalan dengan tujuan global pembangunan berkelanjutan. Setelah pelaksanaan seminar dan lokakarya interaktif  terjadi peningkatan signifikan dalam pemahaman para peserta. Secara keseluruhan, rerata peningkatan wawasan peserta naik dari 3,6 menjadi 4,6. Hasil ini mencerminkan efektivitas metode pembelajaran yang interaktif dan relevan dengan karakteristik generasi Z dalam meningkatkan literasi lingkungan secara komunikatif.