Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Media construction of Enggano Island’s isolation: A comparative framing analysis of detikcom and Kompas.com using Entman’s model Taufik Hasyim; Yeni Kartika; Rizza Armelvia Sari
Priviet Social Sciences Journal Vol. 5 No. 11 (2025): November 2025
Publisher : Privietlab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55942/pssj.v5i11.965

Abstract

This study explores how two leading national online media, detikcom and Kompas.com, construct news frames around the issue of isolation on Enggano Island through the analytical lens of Robert Entman’s framing model. Enggano, a frontier island in Bengkulu Province, has long been characterized by poor transport connectivity, limited infrastructure, and minimal state attention. Each media outlet offers a different interpretive stance, revealing how developmental inequality and the dynamics between Indonesia’s center and periphery are discursively shaped. This study adopts a qualitative framing analysis by applying Entman’s four analytical dimensions: defining the problem, diagnosing causes, making moral evaluations, and suggesting remedies. The data comprise ten online articles published in June 2025, all addressing isolation and development on Enggano. The findings indicate that detikcom constructs the issue primarily through geographical and factual perspectives, portraying Enggano as a remote area requiring infrastructure improvement. Conversely, Kompas.com situates the story within the broader context of policy disparity and governmental accountability, using a tone that is both critical and empathetic toward local communities. In terms of moral evaluation, detikcom maintains descriptive neutrality, while Kompas.com underscores unequal national development and advocates for implicit moral concern. Despite these differences, both outlets stop short of offering concrete policy recommendations. Overall, this study demonstrates that media framing serves as a pivotal mechanism for shaping how isolation and developmental inequality are perceived in Indonesia’s peripheral regions. The findings extend theoretical discussions in development communication and media studies, particularly regarding how the national media reproduces or challenges spatial inequalities within the discourse of public policy and national development.
Tren Penelitian Tantangan Profesi Jurnalis di Artificial Intelligence: Analisis Bibliometrik Artikel Terindeks Scopus Tahun 2020–2025 Taufik Hasyim; Muhamad Anggi Pratama; Anggi Saputra; Adzkiyah Mubarokah; Ari Suryadi; Araf Aliwijaya
Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 6 No. 1 (2026): June
Publisher : Penerbit Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53697/iso.v6i1.3202

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memetakan tren penelitial global mengenai tantangan profesi jurnalis di era AI. Penelitian ini menggunakan metode analisis bibliometrik. Data penelitian diambil dari publikasi artikel internasional terindeks Scopus pada periode tahun 2020–2025. Data dikumpulkan menggunakan kueri pencarian bertema “journalism,” “challenges,” dan “artificial intelligence,” dan disesuaikan untuk pencarian title-keyword-abstract. Kemudian, data hasil pencarian dianalisis menggunakan perangkat lunak VOSviewer. Dari 434 dokumen yang memenuhi kriteria, ditemukan peningkatan publikasi signifikan setiap tahun. Negara publikasi yang paling produktif adalah Amerika Serikat, India dan Spanyol. Terjadi peningkatan jumlah publikasi yang tinggi pada tahun 2024 (131 dari 60). Hasil analisis dan pemetaan kata kunci menunjukkan beberapa temuan utama terkait permasalahan tantangan profesi jurnalis di era AI yaitu: (1) Tantangan akurasi informasi, (2) Tantangan isu fakenews dan misinformasi, (3) Permasalahan dilema redaksi terkait regulasi penggunaan AI, dan (4) Permasalahan etika penggunaan AI pada produksi berita. Permasalahan ini menjadi dasar bagi profesi jurnalis untuk beradaptasi di era AI. Temuan ini menegaskan pentingnya etika, kolaborasi antara manusia dan teknologi, serta perlunya regulasi etis untuk menjaga integritas jurnalistik di tengah era otomatisasi. Untuk implikasi kebijakan maka pemerintah, Dewan Pers atau asosiasi selaku pembuat kebijakan perlu menyiapkan pedoman nasional agar penggunaan AI dalam jurnalisme tetap etis dan bertanggung jawab.