Andi Wahyuni
Departemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja, FKM Universitas Hasanuddin

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN LINGKUNGAN KERJA FISIK DAN NON FISIK DENGAN STRES KERJA Andi Aan Mugniyah; Andi Muflihah Darwis; Andi Wahyuni
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 4 No. 2: JUNE 2023
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v4i2.26364

Abstract

Latar Belakang: Lingkungan kerja merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya stres kerja. Data yang dirilis WHO menyatakan bahwa kurang lebih 450 juta penduduk dunia menderita gangguan mental dan perilaku, sehingga diperkirakan kejadian tersebut menjadi masalah utama kesehatan manusia yang termasuk di dalamnya stres akibat kerja. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan lingkungan kerja fisik dan non fisik dengan stres kerja pada pekerja unit produksi bata ringan PT. Bumi Sarana Beton Makassar kan oleh pekerjaans . Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan cross sectional study. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 75 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan exhaustive sampling. Penelitian dilaksanakan di PT. Bumi Sarana Beton Makassar selama bulan Januari hingga Februari 2023. Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan aplikasi SPSS 23 dengan menggunakan uji statistik chi-square. Hasil: Hasil uji chi-square iklim kerja dengan stres kerja (p-value 0,000) menunjukkan ada hubungan iklim kerja dengan stres kerja. Kebisingan (p-value 0,000) menunjukkan ada hubungan kebisingan dengan stres kerja. Pencahayaan (p-value 0,000) menunjukkan ada hubungan pencahayaan dengan stres kerja. Pimpinan (p-value 0,000) menunjukkan ada hubungan pimpinan dengan stres kerja. Sementara itu, rekan kerja (p-value eror) menunjukkan tidak ada hubungan rekan kerja dengan stres kerja. Kesimpulan: Iklim Kerja, kebisingan, pencahayaan dan pimpinan menunjukkan ada hubungan terhadap stres kerja. Saran bagi perusahaan untuk dapat memperhatikan iklim kerja, kebisingan dan pencahayaan sesuai dengan NAB yang telah ditentukan serta menjalin hubungan yang baik antar pimpinan dan bawahan.
HUBUNGAN PENGGUNAAN KOMPUTER DENGAN ASTENOPIA PADA PEKERJA Cecilia Aurynt Angeline Kohang; Andi Wahyuni; Andi Muflihah Darwis
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 4 No. 3: OCTOBER 2023
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v4i3.26860

Abstract

Latar Belakang: National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) Amerika Serikat mengatakan bahwa sekitar 90% orang yang menghabiskan tiga jam atau lebih sehari di komputer dapat mengakibatkan Astenopia. Berdasarkan hasil survey American Eye-Q tentang teknologi dan kesehatan mata melaporkan bahwa sekitar 58% orang dewasa mengalami ketegangan mata atau masalah penglihatan sebagai akibat langsung dari paparan display monitor tersebut. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan penggunaan komputer dengan Astenopia pada pekerja PT. Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan cross sectional study. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 45 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan exhausted sampling. Penelitian dilaksanakan di PT. Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi selama bulan Maret – April 2023. Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan aplikasi SPSS 29 dengan menggunakan uji statistik chi-square test. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat 16 orang responden (35,6%) yang mengalami keluhan berat dan 29 orang responden (64,4%) yang mengalami keluhan ringan. Hasil uji chi-square test menunjukkan ada hubungan kejadian Astenopia dengan lama paparan monitor (p=0,031), istirahat mata (p=0.030), jarak monitor (p=0,009), dan pencahayaan (p=<0,001). Adanya hubungan lama paparan monitor dengan keluhan subjektif yang dialami responden menunjukkan bahwa istirahat mata mempengaruhi kejadian Astenopia pada pekerja di PT. Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi. Kesimpulan: lama paparan monitor, istirahat mata, jarak monitor, dan pencahayaan menunjukkan ada hubungan dengan kejadian Astenopia. Saran bagi pekerja untuk dapat memperhatikan lama paparan monitor, istirahat mata, jarak monitor dan pencahayaan sesuai dengan NAB yang telah ditentukan saat bekerja menggunakan komputer.