Ummu Salmah
Departemen Biostatistik/KKB, FKM Universitas Hasanuddin

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

POTENSI FENOMENA KEKERASAN SEKSUAL PADA MAHASISWA S-1 UNIVERSITAS : SEBUAH STUDI DESKRIPTIF Ashila Faradiba; Ummu Salmah; M. Tahir Abdullah
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 6 No. 1: FEBRUARY 2025
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v6i1.35736

Abstract

Latar Belakang: Kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi merupakan masalah serius yang membutuhkan perhatian khusus. Berdasarkan data dari Komnas Perempuan, perguruan tinggi menempati urutan pertama sebagai tempat dengan kejadian kekerasan seksual terbanyak di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan pendidikan belum menjadi ruang aman bagi mahasiswa dan sivitas akademika lainnya. Tujuan: Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi prevalensi dan karakteristik kekerasan seksual di kalangan mahasiswa S-1 Universitas Hasanuddin, serta untuk mengidentifikasi pelaku, lokasi, dan waktu kejadian kekerasan seksual, serta dampak psikologis yang dialami korban. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan populasi mahasiswa S-1 Universitas Hasanuddin. Sampel diambil secara accidental dengan jumlah responden sebanyak 424 mahasiswa. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner yang disebarkan secara daring. Analisis data menggunakan metode univariat untuk mendeskripsikan karakteristik setiap variabel. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi kekerasan seksual di Universitas Hasanuddin mencapai 76%, dengan korban perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki. Bentuk kekerasan seksual yang paling sering dialami adalah verbal dan non-fisik. Pelaku kekerasan seksual paling banyak adalah mereka yang terlibat dalam proses Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kejadian kekerasan seksual paling sering terjadi di ruang publik sekitar kampus dan ruang daring, terutama pada tahun 2022 dan saat mahasiswa berada di semester 2. Kesimpulan: Kekerasan seksual menjadi masalah signifikan di Universitas Hasanuddin. Namun, sebagian besar korban tidak melaporkan kejadian tersebut, dengan alasan berupa rasa malu, takut disalahkan, dan ketidakpercayaan terhadap sistem yang ada. Universitas Hasanuddin diharapkan dapat meningkatkan edukasi pencegahan kekerasan seksual dan sosialisasi terkait alur pelaporan di Universitas Hasanuddin.
FAKTOR RISIKO KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BIRA KOTA MAKASSAR TAHUN 2024 Aina Syamira; Ummu Salmah; Muhammad Tahir Abdullah
Hasanuddin Journal of Public Health Vol. 6 No. 1: FEBRUARY 2025
Publisher : Faculty of Public Health, Hasanuddin University, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30597/hjph.v6i1.36291

Abstract

Latar Belakang: Pneumonia adalah penyebab kematian menular terbesar pada anak-anak di seluruh dunia dan membunuh 740.180 anak di bawah usia 5 tahun pada tahun 2019, terhitung 14% dari semua kematian anak di bawah 5 tahun tetapi 22% dari semua kematian pada anak berusia 1 hingga 5 tahun. Indonesia termasuk salah satu dari 30 negara dengan beban pneumonia tertinggi di dunia. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor risiko kejadian pneumonia pada balita di wilayah kerja Puskesmas Bira Kota Makassar. Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan case control. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita berusia 12-59 bulan dan terdiagnosa pneumonia di wilayah kerja Puskesmas Bira serta dipilih secara purposive sampling. Analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan uji odds ratio. Hasil: Berdasarkan hasil analisis odds ratio ditemukan bahwa jenis kelamin balita (OR=3,27, 95% CI = 1,384-7,758) dan status gizi balita (OR = 4,73, 95% CI = 1,842 - 12,163) merupakan faktor risiko kejadian pneumonia pada balita. Sedangkan, riwayat ASI eksklusif (OR=1,30, 95% CI=0,597-2,867), riwayat imunisasi (OR=1,76, 95% CI=0,503-6,169), tingkat pengetahuan ibu (OR=1,42, 95% CI=0,66-3,081), kebiasaan merokok anggota keluarga (OR=0,78, 95% CI=0,346-1,795), akses pelayanan kesehatan (OR=1,28, 95% CI=0,485-3,420), dan riwayat asma (OR=1,66, 95% CI=0,422-6,582) bukan faktor risiko kejadian pneumonia pada balita. Kesimpulan: Jenis kelamin balita dan status gizi balita merupakan faktor risiko kejadian pneumonia pada balita di wilayah kerja Puskesmas Bira Kota Makassar Tahun 2024. Diharapkan agar ibu balita lebih memperhatikan asupan gizi yang cukup dan seimbang guna mencegah risiko pneumonia.