Ganung Ahmad Maulana Maulagann
UIN Raden Mas Said Surakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Konstruksi Karakter Hilmi sebagai Pria Palestina dalam Novel Israel “All The Rivers” melalui Teori Orientalisme dan Representasi: Indonesia Ganung Ahmad Maulana Maulagann
Literasi : Jurnal Kajian Keislaman Multi-Perspektif Vol. 6 No. 1 (2025): December 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/literasi.v6i1.13925

Abstract

Konflik Palestina antara Israel yang berkepanjangan tidak hanya hadir dalam ranah politik dan sejarah, tetapi juga direpresentasikan melalui karya sastra. Salah satu novel yang mengangkat dinamika tersebut adalah All The Rivers karya Dorit Rabinyan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konstruksi karakter Hilmi sebagai pria Palestina dalam novel tersebut, dengan menyoroti bagaimana identitas Palestina direpresentasikan melalui sudut pandang narator Israel. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik analisis deskriptif, menjadikan novel All The Rivers sebagai sumber data utama. Data diperoleh melalui pembacaan mendalam dan pengumpulan kutipan yang berkaitan dengan penggambaran fisik, sifat, dan pandangan politik tokoh Hilmi, kemudian dianalisis menggunakan teori orientalisme dan representasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter Hilmi dikonstruksi sebagai sosok yang eksotis, sensitif, dan berjiwa seni, namun mengalami depolitisasi identitas sebagai bagian dari bangsa Palestina yang terjajah. Latar New York sebagai “ruang ketiga” memungkinkan interaksi lintas identitas berlangsung relatif setara, tetapi sekaligus menyamarkan realitas konflik kolonial Palestina–Israel. Kematian Hilmi di akhir cerita berfungsi sebagai simbol kegagalan imajinasi multikultural dan menegaskan batas toleransi naratif terhadap keberadaan pria Palestina dalam kehidupan subjek Israel. Penelitian ini menyimpulkan bahwa novel All The Rivers masih mereproduksi pola orientalisme, meskipun dikemas dalam narasi romansa dan kemanusiaan.