Perancangan ini merespons menurunnya minat generasi muda terhadap kebaya sebagai bagian dari fashion sehari-hari, diperkuat dengan tren kebaya bergaya Korea yang semakin populer. Tujuannya adalah membangun kembali citra kebaya sebagai identitas budaya yang modern, inklusif, dan relevan melalui kampanye media sosial yang komunikatif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis perancangan dengan pendekatan Design Thinking yang terdiri dari lima tahap: empathize, define, ideate, prototype, dan test. Teori identitas budaya dan komunikasi visual menjadi landasan konseptual perancangan konten digital dan media pendukung. Data dikumpulkan melalui observasi perilaku audiens Generasi Milenial dan Gen Z di media sosial, studi literatur, dan wawancara informal. Perancangan menghasilkan identitas visual dengan palet warna earth tone, abu-abu, dan emas, tipografi Elliana Samantha yang dimodifikasi, serta ilustrasi karakter hasil tracing digital. Kampanye diimplementasikan melalui Instagram dan TikTok dengan 18 konten berupa video vlog, video sinematik, carousel edukatif, dan konten interaktif. Hasil insight menunjukkan 4.900 tayangan, 276 interaksi, dan jangkauan 2.300 pengguna dalam satu bulan, dengan 53% interaksi dari non-pengikut. Polling audiens mengungkapkan 84% responden lebih tertarik pada kebaya, 64% menganggap kebaya cocok digunakan kasual, dan 82% ingin mencoba kebaya untuk OOTD. Simpulan penelitian ini adalah bahwa strategi visual yang relevan dan berbasis budaya dapat meningkatkan minat serta mengubah persepsi generasi muda terhadap kebaya, memperkuat posisinya sebagai simbol identitas yang adaptif dan membanggakan.