Ketika suatu individu pergi ke suatu wilayah yang belum pernah ditempati atau dikunjungi sebelumnya tentunya akan mengalami keterkejutan budaya atau yang dikenal dengan culture shock. Culture shock terjadi didasarkan atas adanya perbedaan reaksi antar suatu individu dalam menyikapi perbedaan budaya asal individu dengan suatu wilayah yang belum pernah ia tempati sebelumnya sehingga akan membuat individu merasa kebingungan adanya perbedaan tersebut terkhususnya mahasiswa yang melakukan pertukaran pelajar di luar negeri. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses adaptasi culture shock mahasiswa yang berpatisipan melakukan pertukaran pelajar ke luar negeri serta strategi yang mereka hadapi dalam mengatasi geger budaya tersebut dengan menggunakan Teori Kalvero Oberg dan Teori Adaptasi Robert K.Merton. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan jenis penelitian metode penelitian kualitatif deskriptif. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, dokumentasi dan observasi non-partisipan. Teknik dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling, dengan kriteria final yang sudah ditentukan terdapat lima informan. Penelitian ini menggunakan informan mahasiswa program sarjana Universitas Riau yang mengikuti salah satu program MBKM yaitu Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) yang pelaksanaan dari program pertukaran mahasiswa ke luar negeri selama satu semester dan terkhususnya mereka yang melakukan pertukaran ke Benua Eropa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa awardees atau mahasiswa IISMA melewati 4 fase yaitu ; 1) fase kegembiraan dimana mereka merasa antusiasme ketika kedatangan di universitas tujuan mereka, 2) fase kekecewaan, bahwa mereka mengalami ekspetasi berbeda dari budaya tersebut seperti pada makanan, cuaca dan bahasa, 3) fase penyesuian diri, dimana mereka sudah mulai melakukan strategi untuk mengatasi culture shock di universitas tujuan tersebut, 4) fase berfungsi efektif, bahwa mereka sudah menerima sepenuhnya budaya di universitas tujuan mereka tersebut. Dalam hambatan strategi mereka lakukan, terdapat 3 cara dalam mengatasi geger budaya tersebut diantaranya kerjasama (comformity), kedua, inovasi (innovation) dan ketiga rituliasme (ritualism) seperti dengan cara mentoleransi perbedaan kultur pergaulan di universitas tujuan tersebut