Khalifa Nur Khaliq Pohan
Universitas Pembangunan Nasional ‘Veteran’ Jakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Konflik Internal Partai Politik: Analisis Lahirnya Partai Gelora Sebagai Dampak Pecahnya Partai Keadilan Sejahtera Abdul Ghofur; Khalifa Nur Khaliq Pohan; Rahma Nanda Azizah; Kayla Putri Alena; Zalfa Octaviani; Dwi Septian Hadinugroho
Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2025): June
Publisher : Penerbit Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53697/iso.v5i1.2643

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konflik internal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) serta proses pembentukan Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora) yang muncul sebagai dampak dari perpecahan tersebut. Konflik internal PKS tidak hanya terjadi di tingkat kepemimpinan, tetapi juga melibatkan perbedaan visi, orientasi ideologis, dan kepentingan dari berbagai faksi di dalam partai. Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif dan studi kasus, dengan mengandalkan dokumentasi, media, dan laporan jurnal ilmiah, untuk memahami akar permasalahan, proses, dan dampak dari perpecahan PKS terhadap konfigurasi perpolitikan di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan visi antara kelompok elite senior dan kader muda, distribusi kekuasaan yang tidak merata, serta rigiditas ideologis menjadi akar konflik yang tidak dapat diselesaikan secara internal. Hal ini kemudian mendorong kelompok yang merasa tidak terakomodasi untuk mendirikan Partai Gelora pada tahun 2019, yang lebih terbuka, moderat, dan pragmatis, demi mencapai visi Indonesia yang unggul dan mampu bersaing di kancah internasional. Penelusuran yang lebih mendalam juga menemukan bahwa perpecahan PKS mencerminkan proses transformasi internal sebuah partai, yaitu pergeseran dari ideologis yang eksklusif menuju pendekatan yang lebih inklusif dan akomodatif. Penelitian ini bermanfaat untuk memahami bagaimana perbedaan visi, kepentingan, dan pendekatan kepemimpinan dapat menjadi akar perpecahan internal serta pembentuk kekuatan politik baru, dan juga sebagai pembelajaran mengenai pentingnya manajemen konflik dan demokratisasi internal untuk menjaga keutuhan partai