Silaen Cross
Sekolah Tinggi Theologia HKBP Pematangsiantar

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Marsiadapari dan Inkarnasi Iman Kristen: Pendekatan Kontekstual Berdasarkan Pemikiran Helen Rhee Tentang Kristus Dan Kebudayaan Silaen Cross; Riris Siagian
Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 6 No. 1 (2026): June
Publisher : Penerbit Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53697/iso.v6i1.3125

Abstract

Tulisan ini mengkaji konsep Marsiadapari dalam budaya Batak Toba sebagai wujud inkarnasi iman Kristen dalam konteks budaya lokal dengan menggunakan kerangka pemikiran Helen Rhee tentang perjumpaan Kristus dan kebudayaan. Dalam refleksi teologis Rhee, gereja mula-mula hidup di tengah pluralitas dan ketegangan budaya, namun mampu menghidupi iman yang relevan tanpa kehilangan identitas Kristiani. Perspektif ini menjadi landasan penting untuk memahami bagaimana iman Kristen berinkarnasi dalam budaya Batak Toba melalui praktik Marsiadapari, yang menekankan solidaritas, partisipasi, dan kasih dalam kehidupan komunal.  Analisis difokuskan pada prinsip-prinsip perjumpaan iman dan budaya, termasuk dialog, inkulturasi, dan transformasi budaya, untuk memahami bagaimana nilai-nilai Marsiadapari solidaritas, kebersamaan, tolong-menolong, dan partisipasi dapat dimaknai sebagai ekspresi nyata dari kasih Kristus yang berinkarnasi dalam kehidupan komunal masyarakat Batak Toba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Marsiadapari bukan sekadar praktik sosial, melainkan ruang teologis di mana iman Kristen diwujudkan melalui tindakan nyata di tengah masyarakat. Nilai-nilai budaya lokal ini selaras dengan prinsip-prinsip Kristen yang dihidupi gereja mula-mula, seperti yang dijelaskan Rhee, sehingga praktik Marsiadapari dapat dibaca sebagai bentuk inkarnasi Kristus yang relevan, kontekstual, dan berakar pada tradisi iman. Temuan ini menegaskan pentingnya dialog kreatif antara iman Kristen dan budaya lokal sebagai strategi untuk memperluas relevansi gereja di Indonesia yang majemuk, sekaligus memperkaya pemahaman teologis tentang bagaimana kasih Allah hadir dalam tindakan nyata umat beriman. Praktik budaya seperti Marsiadapari menunjukkan bahwa iman Kristen dapat berinteraksi secara harmonis dengan nilai-nilai lokal tanpa kehilangan esensi teologisnya, membuka peluang bagi gereja untuk mengembangkan model kontekstualisasi yang kritis, kreatif, dan berlandaskan Alkitab.