Ponten Naibaho
Sekolah Tinggi Theologia HKBP Pematangsiantar

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Beragama Menciptakan Harmoni Sosial: Refleksi Teologis Atas Tanggung Jawab Iman di Tengah Keberagaman Wilson Afandi Siahaan; Ponten Naibaho
Jurnal ISO: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora Vol. 6 No. 1 (2026): June
Publisher : Penerbit Jurnal Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53697/iso.v6i1.3189

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis peran agama dalam membentuk harmoni sosial di tengah keberagaman serta menegaskan tanggung jawab moral iman dalam kehidupan bersama. Sejak awal peradaban, manusia selalu berupaya mencari hubungan dengan yang transenden, yang melahirkan berbagai sistem kepercayaan dan praktik keagamaan. Namun, dalam kenyataannya, agama tidak jarang menjadi sumber konflik akibat penyalahgunaan ajaran dan sikap eksklusif yang meniadakan nilai kemanusiaan universal. Karena itu, dibutuhkan refleksi teologis yang menegaskan kembali tanggung jawab iman dalam konteks sosial. Melalui Metode kualitatif dengan metode deskriptif-teologis, penelitian ini menafsirkan hubungan antara ajaran agama dan pembentukan kehidupan bersama yang damai. Studi pustaka terhadap teks-teks teologis, filsafat agama, dan sosiologi agama menunjukkan bahwa setiap agama sejatinya mengandung nilai kasih, keadilan, dan perdamaian. Dalam perspektif teologi Kristen, kasih kepada Allah harus diwujudkan melalui kasih kepada sesama sebagai bentuk iman yang hidup. Prinsip serupa juga ditemukan dalam ajaran-ajaran universal agama lain yang menekankan empati, penghormatan terhadap martabat manusia, dan solidaritas lintas perbedaan. Oleh karena itu, keberagaman bukanlah ancaman, melainkan wujud kekayaan ilahi yang memperluas wawasan iman. Beragama berarti memikul tanggung jawab moral untuk memelihara kehidupan yang harmonis, toleran, dan inklusif. Refleksi teologis ini menegaskan bahwa iman sejati tidak berhenti pada pengakuan, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata yang membawa damai di tengah masyarakat majemuk.