Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kerjasama Indonesia–Jepang dalam transfer pengetahuan manajemen air limbah melalui skema sister city antara Kota Bandung dan Kota Kawasaki. Analisis difokuskan pada mekanisme transfer pengetahuan, bentuk program kerjasama, pengaturan kelembagaan, serta tantangan implementasi di tingkat pemerintah daerah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara semi-terstruktur, observasi, dan analisis dokumen. Informan kunci penelitian meliputi aparatur Pemerintah Kota Bandung yang terlibat langsung dalam pelaksanaan kerjasama, yang dilengkapi dengan telaah terhadap perjanjian kerjasama, dokumen kebijakan, dan laporan program terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerjasama sister city Bandung–Kawasaki berfungsi sebagai instrumen paradiplomasi dalam kerangka diplomasi lingkungan yang berkontribusi pada penguatan kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia dalam pengelolaan air limbah perkotaan di Kota Bandung. Transfer pengetahuan dilakukan melalui pelatihan teknis, lokakarya, kunjungan studi, dan pendampingan ahli, yang mendorong adopsi praktik pengelolaan air limbah dan pendekatan regulasi yang lebih terintegrasi. Namun demikian, efektivitas kerjasama masih dibatasi oleh perbedaan sistem kelembagaan, kompleksitas koordinasi lintas instansi, keterbatasan sumber daya anggaran, ketimpangan adaptasi teknologi, serta rendahnya tingkat partisipasi masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberlanjutan kerjasama sister city dalam pengelolaan lingkungan memerlukan penguatan tata kelola kelembagaan, adaptasi teknologi yang sensitif terhadap konteks lokal, serta perluasan keterlibatan publik. Temuan ini menegaskan peran strategis pemerintah daerah sebagai aktor subnasional dalam diplomasi lingkungan serta pentingnya kerjasama antar kota lintas negara dalam mendukung pembangunan perkotaan yang berkelanjutan dan peningkatan tata kelola lingkungan di negara berkembang.