Kornelia Romana Iwa
Program Studi Sarjana Keperawatan UNIKA Santu Paulus Ruteng

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Pola Makan dengan Kejadia Gastroesophageal Reflux Disease (Gerd) pada Mahasiswa Keperawatan Unika Santu Paulus Ruteng Kornelia Romana Iwa; Saverius Mahu
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 2 (2026): Volume 8 Nomor 2 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i2.24399

Abstract

ABSTRACT Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) is a health problem that often occurs in productive ages, including students,and can interfere with activities and reduce quality of life. One of the factors that influence the occurrence of GERD is an unhealthy diet, such as skipping meals, consuming spicy, sour, or fatty foods in excess. Purpose: to determine "The Relationship Between Dietary Patterns and Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) In Nursing Students of Class2022, Catholic University of Indonesia Santu Paulus". Method: This study used a quantitative approach and cross-sectional method. The population was 285 students. The sample was 166 students taken using the proportional stratified random sampling technique. Data analysis was carried out using the chi-square test. Results: The study showed that 84 respondents (50.6%) experienced GERD and 82 respondents (49.4%) did not experience GERD. Of the71 respondents who had poor diet, 46 people (27.7%) experienced GERD. While of the 95 respondents who had gooddiet, 38 people (22.9%) experienced GERD. The results of the chi-square test showed a p value = 0.002, which means there is a significant relationship between diet and the incidence of GERD. Conclusion: that poor diet is related to an increase in the incidence of GERD in nursing students at Unika Santu Paulus Ruteng. Keywords: Diet, GERD, Early Adulthood.  ABSTRAK Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) adalah masalah kesehatan yang umum terjadi pada usia produktif, termasuk di kalangan mahasiswa, dan dapat mengganggu aktivitas serta mengurangi kualitas hidup. Salah satu penyebab terjadinya GERD adalah pola makan yang tidak sehat, seperti melewatkan jadwal makan, serta mengonsumsi makanan pedas, asam, atau berlemak secara berlebihan.Tujuan: penelitian ini adalah untuk mengetahui “Hubungan Pola Makan Terhadap Kejadian Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) Pada Mahasiswa Keperawatan Angkatan 2022 Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus”. Metode: Penelitian ini mengadopsi pendekatan kuantitatif serta menggunakan metodecross sectional. Jumlah populasi adalah 285 mahasiswa. Sampel yang diambil terdiri dari 166 mahasiswa dengan menggunakan teknik proportional stratified randem sampling. Untuk analisis data, digunakan uji chi-square. Hasil:Temuan penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 84 responden (50,6%) mengalami GERD dan 82 responden (49,4%) tidak mengalami GERD. Dari 71 responden yang memiliki pola makan tidak baik, 46 orang (27,7%) mengalami GERD. Sedangkan dari 95 responden yang memiliki pola makan baik, 38 orang (22,9%) mengalami GERD. Hasil uji chi-square menunjukkan nilai p = 0,002, mengindikasikan terdapat hubungan signifikan antara pola makan dan kejadian GERD. Kesimpulan: bahwa pola makan yang tidak baik berhubungan dengan peningkatan kejadian GERD pada mahasiswa keperawatan Unika Santu Paulus Ruteng. Kata Kunci: Pola makan, GERD, Dewasa Awal.
Gambaran Tingkat Stress Biarawati di Biara Katolik di Kecamatan Langke Rembong Kornelia Romana Iwa; Katarina Snae; Paskaliana Hilpriska Danal
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 2 (2026): Volume 8 Nomor 2 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i2.24350

Abstract

ABSTRACT Stress is a physical and psychological response to pressure or environmental demands that exceed an individual's ability to deal with them. In religious life, nuns face various challenges such as the experience of religious vows, the dynamics of community life, and the demands of service that can trigger stress. Objective: This study aims todetermine the description of stress levels in nuns in Catholic convents located in Langke Rembong District. Method: This study uses a quantitative descriptive approach with a cross-sectional design. The research sample consisted of 110 nuns selected using purposive sampling techniques. The instrument used was the Perceived Stress Scale (PSS-10) questionnaire. Data were analyzed using univariate analysis. Results: The results showed that the majority of respondents experienced moderate stress (80.9%), followed by mild stress (12.7%) and severe stress (6.4%). The largest number of respondents were in the 26–30 age group (76.4%). Keywords: Stress, Nuns.  ABSTRAK Stres merupakan respon fisik dan psikologis terhadap tekanan atau tuntutan lingkungan yang melebihi kemampuan individu untuk menghadapinya. Dalam kehidupan religius, para biarawati menghadapi berbagai tantangan seperti penghayatan kaul religius, dinamika hidup komunitas, dan tuntutan pelayanan yang dapat menjadi pemicu stres.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat stres pada biarawati di Biara Katolik yang berada di Kecamatan Langke Rembong. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptifdengan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 110 biarawati yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Perceived Stress Scale (PSS-10). Data dianalisis menggunakan analisis univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden mengalami stres tingkat sedang (80,9%), diikuti oleh stres ringan (12,7%) dan stres berat (6,4%). Responden terbanyak berada pada kelompok usia 26–30 tahun (76,4%). Kata Kunci: Stres, Biarawati.