Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Community Diagnosis Activity Report in Efforts to Increase Tuberculosis Preventive Therapy Acceptance Rate in Dukuh Village, Cikupa Health Center Work Area, Cikupa Subdistrict, Tangerang Regency, Banten Province Period: May 2, 2025 - June 28, 2025 Cindy Clarissa S; Zita Atzmardina; Irvan Baharits
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 11 (2025): Volume 7 Nomor 11 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i11.22769

Abstract

ABSTRACT Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by the Mycobacterium tuberculosis complex. Tuberculosis Preventive Therapy (TPT) is necessary for individuals at high risk of contracting TB to prevent transmission. However, the uptake rate of TPT remains low in areas with the highest number of TB cases. From January to April 2025, the number of TPT recipients in the Cikupa Community Health Center's working area was only 41 people, falling short of the target of 91. The objective was for all participants to demonstrate increased knowledge following the intervention and to be able to correctly perform the intervention. Data was collected through a mini-survey conducted among the community within the Cikupa Community Health Center's working area. The collected data was then analyzed using the Blum Paradigm to identify problems. Problem prioritization was determined using the non-scoring Delphi method. A Fishbone diagram was used to identify the root causes of the problem. During the intervention, pre-tests and post-tests were administered to assess the knowledge of Dukuh village residents before and after the intervention. The PDCA (Plan-Do-Check-Act) cycle and a systems approach were used for monitoring and evaluation. The problem identification using the Blum Paradigm indicated that 'Lifestyle' was the primary contributing factor. In Intervention 1, a total of 26 participants showed an increase in correct answers on their post-test compared to their pre-test, and 31 participants achieved a post-test score of ≥ 70. For Intervention 2, three participants were able to correctly re-demonstrate the procedure. Following Interventions 1 and 2, the program was declared successful. It is expected that these interventions will lead to an increase in the number of TPT recipients in the Dukuh Village area. Keywords: Tuberculosis, TPT, Community Diagnosis
Peningkatan Pengetahuan Tuberkulosis dan Demonstrasi Upaya Mengatasi Jumlah Kasus Tuberkulosis Paru di Desa Bojong, Wilayah Kerja Puskesmas Cikupa, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Cikupa, Provinsi Banten Amelia Assyifa; Zita Atzmardina; Zalfa Hemilda Putri; Fairuz Zefiro Letius; Salsabila Rahma Fadillah
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 3 (2026): Volume 8 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i3.24539

Abstract

ABSTRACT Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis and remains a major public health concern in Indonesia. In 2023, an estimated 1.090.000 cases were reported, equivalent to 387 from 100.000 population, with more than one million cases and approximately 125.000 deaths occurring annually. Similar trends are observed in the working area of the Cikupa Primary Health Center, where TB case numbers have fluctuated since 2022. Recorded cases include 217 cases in 2022, 190 cases in 2023, 193 cases in 2024, and 124 cases from January to July 2025. This study aims to identify the root causes behind the increase in TB cases and to design effective interventions to improve community knowledge and TB prevention. The methods used in this study included problem identification using the Blum Paradigm, determining priority problems with the Urgency, Seriousness, Growth (USG) scoring technique and the non-scoring Delphi method, and conducting root cause analysis using a fishbone diagram and 5 Whys approach. In addition, health education interventions were carried out, including counseling and demonstrations of clean and healthy behaviors such as proper coughing and sneezing etiquette and handwashing. The evaluation results based on pre-test and post-test assessments and monitoring using the Plan–Do–Check–Act (PDCA) cycle showed that limited community knowledge about TB symptoms, transmission, diagnostic procedures, treatment, and prevention was a major factor contributing to fluctuating TB cases. In one of the intervention areas, Bojong Village, 23 participants (60.53%) showed an improvement of ≥20 points between their pre-test and post-test scores, and 34 participants (89.47%) achieved post-test scores above 70. Several participants were also able to correctly demonstrate clean and healthy behaviors. In conclusion, health education on TB symptoms, transmission, diagnosis, treatment, and prevention combined with demonstrations of clean and healthy practices proved effective in improving community knowledge and awareness in the effort to control TB. This intervention is expected to contribute to reducing new TB cases in the Cikupa Primary Health Center working area. Keywords : Tuberculosis, Health Education, Blum Paradigm.  ABSTRAK Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit menular akibat Mycobacterium Tuberculosis yang menjadi perhatian dalam masalah kesehatan di Indonesia dimana pada tahun 2023 diperkirakan 1.090.000 atau 387 per 100.000 penduduk dengan lebih dari 1 juta kasus dan 125.000 terjadi kematian setiap tahunnya, termasuk di Wilayah Kerja Puskesmas Cikupa terjadi penyebaran kasus Tuberkulosis secara fluktuatif sejak tahun 2022 hingga 2025 tercatat sejak tahun 2022 sebanyak 217 kasus, tahun 2023 sebanyak 190 kasus, tahun 2024 sebanyak 193 kasus, dan Januari hingga Juli 2025 sebanyak 124 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi akar masalah penyebab terjadinya peningkatan kasus Tuberkulosis serta merancang intervensi yang efektif dalam meningkatkan pengetahuan serta pencegahan Tuberkulosis pada masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi identifikasi masalah menggunakan Paradigma Blum, menentukan prioritas masalah menggunakan teknik skoring urgency, seriousness, growth (USG) dan non skoring Delphi, analisis akar masalah dengan diagram fishbone dan 5 whys. Selain itu, dilakukan juga edukasi kesehatan berupa intervensi penyuluhan dan demonstrasi perilaku hidup bersih dan sehat mencakup etika batuk dan bersin serta cuci tangan. Hasilnya dari evaluasi berupa pre-test dan post-test serta pemantauan dengan Plan, Do, Check, Act (PDCA) menunjukkan kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai gejala, transmisi, pemeriksaan, pengobatan dan pencegahan Tuberkulosis yang menjadi faktor utama fluktuasi kasus Tuberkulosis. Intervensi yang dilakukan pada salah satu Wilayah Kerja Puskesmas Cikupa, yakni Desa Bojong didapatkan 23 responden (60,53%) yang mengalami kenaikan skor ≥20 poin dari nilai pre-test ke post-test dan 34 responden (89,47%) memperoleh nilai post-test 70, serta beberapa peserta mampu mendemonstrasikan ulang praktik perilaku hidup bersih dan sehat. Kesimpulan yang didapatkan, penyuluhan Tuberkulosis terkait gejala, transmisi, pemeriksaan, pengobatan dan pencegahan serta demonstrasi perilaku hidup bersih dan sehat terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kewaspadaan masyarakat dalam upaya pengendalian Tuberkulosis. Intervensi ini diharapkan dapat berkontribusi terhadap penurunan kasus baru Tuberkulosis di Wilayah Kerja Puskesmas Cikupa. Kata Kunci: Tuberkulosis, Edukasi Kesehatan, Paradigma Blum.
Skrining Gizi untuk Peningkatan Kualitas Hidup Zita Atzmardina; Novelee Irawan Putri; Valleryano Lay; Hanna Paulina Wibowo; Devi Putri Nabila
Jurnal Pengabdian West Science Vol 5 No 04 (2026): Jurnal Pengabdian West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpmws.v5i04.3296

Abstract

Pemenuhan gizi merupakan fondasi utama dalam pembangunan sumber daya manusia yang sehat dan produktif.Indonesia masih menghadapi masalah gizi seperti stunting, gizi kurang, gizi lebih, serta defisiensi mikronutrien yangberdampak pada tumbuh kembang anak, daya tahan tubuh, dan produktivitas di masa dewasa. WHO menekankanpentingnya intervensi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) untuk mencegah risiko penyakit tidak menular dangangguan perkembangan. Meskipun pemerintah telah menetapkan strategi percepatan penurunan stunting, data SurveiKesehatan Indonesia (2023) menunjukkan penurunan yang sangat kecil, sehingga diperlukan upaya intervensi yanglebih efektif dan merata. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah promosi kesehatan melalui edukasi,pemberdayaan masyarakat, advokasi, dan bina suasana. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran orangtua mengenai pemantauan pertumbuhan anak melalui kegiatan skrining gizi berbasis komunitas. Metode yangdigunakan meliputi pengukuran antropometri (berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, dan lingkar lengan atas) sertaskrining status gizi menggunakan kurva WHO. Kegiatan dilaksanakan di Balai Kelurahan dengan melibatkan BidanKelurahan serta diikuti oleh 35 peserta. Setelah pengukuran, peserta menerima hasil status gizi, penjelasan, danedukasi terkait nutrisi. Edukasi dilakukan melalui diskusi interaktif dan pengulangan informasi oleh peserta untukmemastikan pemahaman. Acara ditutup dengan pembagian snack berupa susu dan biskuit. Hasil menunjukkanmayoritas peserta berhasil mengikuti pengukuran dan memahami edukasi yang diberikan, meskipun terdapat kendalaberupa beberapa peserta yang tidak mengikuti skrining karena keterbatasan waktu. Dari hasil pengukuran, ditemukan9 anak dengan status gizi kurang hingga buruk. Kegiatan ini menegaskan bahwa skrining gizi berbasis komunitasefektif untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terkait kesehatan anak. Ke depan, diperlukanstrategi untuk meningkatkan partisipasi dan cakupan skrining agar intervensi gizi dapat berjalan optimal.