Aril Rizaldi
Departemen Urologi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Perbandingan Angka Kejadian Disfungsi Ereksi Antara Pasien BPH Yang Mendapatkan Pengobatan Tunggal Tamsulosin Dengan Pengobatan Kombinasi (Tamsulosin Dan Dutasteride) Mutiara Pratiwi Putri; Aril Rizaldi; Hasroni Fathurrahman
JURNAL PANDU HUSADA Vol 8, No 1 (2027)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/jph.v8i1.29758

Abstract

Abstrak: Disfungsi ereksi merupakan suatu kondisi di mana terdapat ketidakmampuan yang konsisten atau berulang untuk mempertahankan atau mencapai ereksi yang cukup untuk kepuasan seksual. Untuk menilai disfungsi ereksi, digunakan kuesioner yang dikenal sebagai International Index of Erectile Function (IIEF). Pada pasien Benign Prostatic Hyperplasia, kemampuan untuk mencapai ereksi dan ejakulasi sering kali menurun, yang dapat berdampak pada kualitas hidup. Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) merupakan gangguan yang terjadi pada kelenjar prostat yang mengalami hiperplasia jinak sel otot polos prostat dan sel stroma prostat. Pengobatan untuk pasien BPH dapat dilakukan dengan terapi medikamentosa dan pembedahan. Terapi medikamentosa umumya menggunakan a-blocker sebagai monoterapi atau dikombinasikan dengan 5a-reductase inhibitors (s-ARIs) sebagai terapi lini pertama.Kombinasi tamsulosin dan dutasteride memberikan manfaat terapeutik yang lebih efektif untuk BPH, meskipun dengan efek samping seksual yang lebih tinggi. Namun, secara signifikan terapi kombinasi ini dapat mengurangi risiko progresi gejala BPH dan kejadian retensi urin akut dibandingkan dengan monoterapi tamsulosin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  perbandingan angka kejadian disfungsi ereksi antara pasien bph yang mendapatkan pengobatan tunggal tamsulosin dengan pengobatan kombinasi (tamsulosin dan dutasteride). Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan desain analitik retrospektif yang menggunakan pendekatan cross-sectional yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang dilaksanakan di bagian urologi RSU Putri Bidadari Stabat dan RSU Bidadari Binjai. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh didapatkan 68 sampel, kemudian didapatkan hasil 0,001 (p-value 0,05) yang bermakna terdapat perbedaan yang signifikan antara pengobatan tunggal tamsulosin dan pengobatan kombinasi (tamsulosin-dutasteride) dengan kejadian disfungsi ereksi pada pasien BPH. Kesimpulan: terdapat perbedaan disfungsi ereksi pada pasien BPH yang mendapatkan pengobatan tunggal tamsulosin dan pengobatan kombinasi (tamsulosin-dutasteride).