Firman Tatariyanto
Universitas Pamulang, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Role of Tax Base Expansion and Taxpayer Compliance in Increasing Tax Revenue in Indonesia Through the Voluntary Disclosure Program (VDP) Sitatun Nahriah; Firman Tatariyanto; Sugiyanto Sugiyanto
Indonesian Interdisciplinary Journal of Sharia Economics (IIJSE) Vol 9 No 1 (2026): Sharia Economics
Publisher : Universitas KH. Abdul Chalim Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31538/iijse.v9i1.9610

Abstract

This research aims to analyze the influence of tax base expansion, taxpayer compliance, and the Voluntary Disclosure Program (VDP) on tax revenue in Indonesia, utilizing Gross Regional Domestic Product (GRDP) as a control variable. The theoretical framework is built upon the Slippery Slope Framework (SSF) popularized by Kirchler et al. (2008), which asserts that tax compliance results from two primary elements: the power of authority and trust in authority. Furthermore, this study employs Compliance Theory, rooted in the rational economic model (Allingham and Sandmo, 1972), which views taxpayers as rational individuals maximizing utility based on risks and sanctions. Using an explanatory quantitative method, the study conducts a panel data regression analysis on secondary data from 2018–2024 obtained from the Directorate General of Taxes and Statistics Indonesia. The results indicate that the number of taxpayers has a positive and significant effect on tax revenue, aligning with Pratama et al. (2024) regarding the positive correlation between registered taxpayers and state revenue. The implementation of VDP also demonstrates a significant positive impact, supporting Lestari et al. (2023) in that the program encourages the voluntary disclosure of unreported tax obligations. However, taxpayer compliance was found to have no statistically significant effect on tax revenue, confirming the argument by Muhammad & Sunarto (2018) that formal administrative compliance does not necessarily reflect the material compliance required to increase revenue. Conversely, the GRDP control variable proved to be a primary determinant, consistent with Wawire (2017) and Andrejovska & Pulikova (2018), who argue that fiscal capacity depends heavily on economic activity and the community's ability to pay. The study concludes that strengthening state revenue requires a balance between massive tax base expansion and building public trust through transparent policies.
Pengaruh Faktor-Faktor Fraud Hexagon terhadap Kecurangan Laporan Keuangan dengan Kompetensi Komisaris Independen sebagai Variabel Moderasi Asep Shofyan Permana; Firman Tatariyanto; Sugiyanto Sugiyanto
EKOMA : Jurnal Ekonomi, Manajemen, Akuntansi Vol. 5 No. 4: Mei 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/ekoma.v5i4.16199

Abstract

Di tengah meningkatnya tekanan kinerja korporasi dan keterlibatan intensif dalam proyek strategis pemerintah, risiko kecurangan laporan keuangan menjadi tantangan serius bagi Badan Usaha Milik Negara di Indonesia. Penelitian ini menguji pengaruh dimensi Fraud Hexagon Theory—pressure, opportunity, rationalization, capability, arrogance, dan collusion—terhadap kecurangan laporan keuangan pada perusahaan BUMN non-keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2015–2024, dengan kompetensi komisaris independen sebagai variabel moderasi. Penelitian menggunakan desain kuantitatif kausal dengan teknik purposive sampling, menghasilkan 14 perusahaan atau 140 observasi. Data sekunder yang diperoleh dari laporan tahunan dianalisis menggunakan regresi linier berganda dan moderated regression analysis (MRA) melalui IBM SPSS Statistics setelah memenuhi seluruh uji asumsi klasik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi Fraud Hexagon secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kecurangan laporan keuangan (p < 0.001). Secara parsial, pressure terbukti memiliki pengaruh positif paling kuat, sementara opportunity menunjukkan pengaruh signifikan dengan arah hubungan yang berbeda dari prediksi konvensional, mengindikasikan dinamika pengendalian internal yang lebih kompleks pada konteks BUMN. Kompetensi komisaris independen berkontribusi dalam memperkuat fungsi pengawasan strategis, meskipun efek moderasi pada masing-masing hubungan kausal masih terbatas. Penelitian ini memperluas validitas empiris Fraud Hexagon dalam konteks perusahaan milik negara di negara berkembang dan menegaskan pentingnya penguatan tata kelola berbasis kompetensi dalam mitigasi risiko pelaporan keuangan.