Sudirham Sudirham
Universitas Negeri Manado

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Persepsi Pasien Hipertensi terhadap Pelayanan Farmasi di Puskesmas Taratara Tomohon Barat Novita Sari Pandiangan; Ellen Bernadet Lomboan; Sudirham Sudirham
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1016

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang membutuhkan pengobatan jangka panjang sehingga pelayanan farmasi yang bermutu sangat diperlukan untuk mendukung keberhasilan terapi. Persepsi pasien terhadap pelayanan farmasi menjadi salah satu indikator penting dalam mengevaluasi mutu pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi pasien hipertensi terhadap pelayanan farmasi di Puskesmas Taratara Tomohon Barat berdasarkan lima dimensi mutu pelayanan, yaitu tangibles, responsiveness, assurance, reliability, dan empathy. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 3.655 pasien hipertensi dengan sampel sebanyak 97 responden yang ditentukan menggunakan rumus Slovin dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner berdasarkan lima dimensi SERVQUAL, sedangkan analisis data dilakukan secara univariat dengan penyajian distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi pasien hipertensi terhadap pelayanan farmasi secara keseluruhan berada pada kategori baik sebesar 80,4%. Berdasarkan masing-masing dimensi, tangibles berada pada kategori cukup (57,7%), responsiveness cukup (53,6%), assurance baik (68,0%), reliability baik (68,0%), dan empathy cukup (67,0%). Penelitian ini menyimpulkan bahwa persepsi pasien hipertensi terhadap pelayanan farmasi di Puskesmas Taratara Tomohon Barat secara umum berada pada kategori baik, namun masih diperlukan peningkatan pada dimensi tangibles, responsiveness, dan empathy agar mutu pelayanan farmasi semakin optimal.