Khoirunita Zahwa Septiassani
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Budaya Tren Digital dan Fenomena Fear of Missing Out (FoMO) di Kalangan Mahasiswa Pengguna Tiktok Khoirunita Zahwa Septiassani; Subhan Widiansyah
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 1 (2026): Februari - April
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i1.7856

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh semakin masifnya penggunaan media sosial TikTok di kalangan mahasiswa yang tidak hanya dimanfaatkan sebagai sarana hiburan, tetapi juga membentuk kebiasaan baru dalam mengikuti tren digital. Fenomena ini memunculkan Fear of Missing Out (FoMO), yaitu perasaan takut tertinggal dari informasi atau tren yang sedang berkembang dalam lingkungan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana budaya tren digital di TikTok memengaruhi pola perilaku mahasiswa serta menjelaskan kemunculan FoMO dalam aktivitas penggunaan media sosial sehari-hari. Ruang lingkup penelitian difokuskan pada pengalaman mahasiswa dalam menggunakan TikTok, tingkat keterlibatan dalam tren digital, serta dampaknya terhadap interaksi sosial dan aktivitas akademik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, dengan melibatkan enam informan yang dipilih melalui teknik purposive sampling berdasarkan kriteria tertentu. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan perspektif interaksi simbolik untuk memahami pembentukan makna sosial melalui simbol digital seperti likes, komentar, dan tren viral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa cenderung mengikuti tren TikTok karena faktor hiburan, pengaruh teman sebaya, serta keinginan untuk tetap relevan dalam lingkungan sosial. FoMO muncul dalam bentuk dorongan untuk terus mengikuti perkembangan tren, namun umumnya tidak mencapai tingkat kecemasan yang tinggi karena adanya kemampuan individu dalam mengontrol penggunaan media sosial. Selain itu, regulasi diri menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan antara aktivitas digital dan tanggung jawab akademik mahasiswa.