p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Ulil Albab PESHUM
Iman Ahmad Gymnastiar
cendekia muda universal islamic school

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Runtuhnya Narasi Inklusi: Apakah Regulasi Pasar Modal Telah Menjadi Pagar Pembatas Pemerataan Kekayaan Investor di Indonesia? Raza Aqeela Muhammad Aldebaran; Iman Ahmad Gymnastiar
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 3: April 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i3.14726

Abstract

Penelitian menganalisis lunturnya deskripsi mengenai inklusi keuangan di pasar modal Indonesia yang memiliki pertumbuhan data Single Investor Identification (SID) memperoleh 19,154,487 hingga Oktober telah memiliki kenaikan 58,4% dengan 4,282,848 pemegang saham baru, namun investor ritel domestik hanya memiliki 18,2% kepemilikan saham, tetapi pemegang saham institusional mengendalikan 81,8%, dengan kontribusi transaksi ritel 44% dan literasi keuangan stabil 66,46%. Menggunakan observasi dan literatur keuangan melalui data OJK-BEI, telah ditemukan adanya bentuk ketimpangan yang berwujud kesenjangan akses informasi, ketentuan administratif yang tergolong rumit, suspensi saham asimetris atau tidak seimbang pada saham seperti TRIN, IPAC, FOLK tapi jarang pada penurunan, serta keterbatasan transparansi mengenai informasi ekspansi perusahaan yang mempunyai efek kenaikan harga saham; penyebab utama mencakup POJK No. 33/2024 protektif, dominasi elite (1% terkaya kuasai 49% aset), dan edukasi timpang; dampaknya meliputi akumulasi kekayaan oligarki, ketidakstabilan sosial, serta hilangnya kepercayaan ritel di tengah volatilitas IHSG. Dengan banyaknya kasus ketidaksetaraan, telah dirancang solusi yang diberikan berupa regulasi BEI yang bersusun dan bertingkat, suspensi saham dengan ketentuan simetris, transparansi informasi dalam waktu nyata, peningkatan literasi keuangan digital secara murni.
Kolonialisme VS. Kesakralan: Dampak Penduduk Inggris Terhadap Sistem Kepercayaan dan Kohesi Sosial Suku Aborigin Almadea Maulida R.M; iman ahmad gymnastiar
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 5 No. 4: Maret 2026
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jim.v5i4.14785

Abstract

Suku Aborigin Australia merupakan peradaban tertua dengan sistem kekerabatan kompleks yang menggabungkan antara manusia, alam, dan spiritualitas, serta mengalami gangguan parah akibat kolonialisme bangsa Eropa sejak tahun 1788. Walaupun menghadapi perempasan tanah dan kebijakan asimilasi, sistem ini memperlihatkan ketahanan budaya yang luar biasa, bahkan menjadi dasar klaim Native Title. Penelitian kualitatif dengan studi literatur ini dapat menganalisis ketahanan tersebut melalui teori Emile Durkheim, khususnya pada konsep yang sakral dan kesadaran kolektif. Tujuannya adalah untuk mengenali unsur kesakralan dalam sistem kepercayaan dan struktur sosial Aborigin pra-kolonial. Hasil penelitian menyatakan bahwa kesakralan sistem tersebut berpusat pada konsep Dreamtime, totemisme klan, pelaksanaan ritual, serta interaksi timbal balik dengan alam. Kesimpulannya, kolonialisme memberikan dampak terbesar terhadap kohesi sosial yang dapat menghancurkan kesadaran kolektif yang sakral, sekaligus menampilkan kemampuan sistem kekerabatan Aborigin untuk dapat beradaptasi dan bertahan.