Abstract In Indonesia, the power of the Spirit is still a consistent theme in pentecostal-charismatic spirituality. This kind of dominance of the power of the Spirit is feared to give rise to spiritual inequality by ignoring other persons in the Trinity. This article argues that pentecostal charismatics must see the Trinity as the primary locus without losing their particularity and Spirit. This study shows that being based on the Trinity will increase discernment in pentecostal-charismatic spirituality. Discussing the Triadic Methodology of Amos Yong and the imaginative-constructive neologism called Impressionism-Expressionism are comparative steps taken to support this study. Through dialogue between the two, this research has succeeded in showing that placing the Trinity as the primary locus will not eliminate the particularity of spirituality but will add to the theological richness of pentecostal-charismatic spirituality. Abstrak Di Indonesia, kuasa Roh masih menjadi tema yang konsisten muncul di dalam spiritualitaspentakostal-karismatik. Dominasi kuasa Roh semacam ini dikhawatirkan akan memunculkanketimpangan spiritualitas dengan mengabaikan pribadi-pribadi lain di dalam Trinitas. Artikel ini memiliki argumentasi bahwa perlunya orang-orang pentakostal-karismatik untuk melihat Trinitas sebagai locus primer tanpa harus kehilangan partikularitas dan semangatnya. Penelitian ini ingin memperlihatkan bahwa keberpijakan pada Trinitas justru akan menambah kearifan (discernment) dalam spiritualitas pentakostal-karismatik. Mempercakapkan Metodologi Triadik dari Amos Yong dan neologisme imajinatif-konstruktif bernama Impresionisme-Ekspresionisme adalah langkah komparatif yang diambil untuk mendukung penelitian ini. Melalui dialog atas keduanya, penelitian ini telah berhasil memperlihatkan bahwa meletakkan Trinitas sebagai lokus utama tidak akan menghilangkan partikularitas spiritualitas, melainkan akan menambah kekayaan teologis di dalam spiritualitas pentakostal-karismatik.