Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MANAJEMEN PENDIDIKAN ANAK DALAM AJARAN HINDU KAHARINGAN DI KALIMANTAN TENGAH ayu juniarthi
Satya Sastraharing : Jurnal Manajemen Vol 3 No 01 (2019): Satya Sastraharing: Jurnal Manajemen
Publisher : Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract In the era of globalization, management of education is a factor that really needs attention from various parties in order to improve the quality of education. Management of Education for children is an effort as a form of parental, community, and government responsibility, which starts from the smallest scope, namely the family environment. Management of Education for children is closely related to figures who have a central role, namely parents (father and mother) as educators who are first, foremost for children and close to children. Hindu Kaharingan teachings have their own concepts related to the management of children's education which are important given early on so that children can grow up to have good character and character. Keywords: Management of Education for children, Hindu Kaharingan, Panaturan
PERKAWINAN NYAI ENDAS BULAU LISAN TINGANG DAN RAJA GARING HATUNGKU DALAM WACANA SEKSUALITAS ERA KEKINIAN ayu juniarthi
Satya Sastraharing : Jurnal Manajemen Vol 4 No 1 (2020): Satya Sastraharing: Jurnal Manajemen
Publisher : Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini membahas ritual perkawinan Nyai Endas Bulau Lisan Tingang dan Raja Garing Hatungku dikaitkan dengan isu seksualitas. Dalam hubungan tersebut perlu disadari ada bentuk upacara yang termuat dalam Kitab Panaturan sebagai pedoman bagi pelaksanaan perkawinan bagi masyarakat yang setia menganut ajaran leluhur, yakni penganut Hindu Kaharingan. Konteks kekinian telah melunturkan esensi pelaksanaan perkawinan yang sakral dan suci dengan pengaruh gaya ke-Barat-an. Apabila perkawinan diartikan sebagai aktivitas atau kegiatan seksual yang bebas dengan tujuan pemenuhan seksual semata. Ironi memang jika pasangan yang sudah menikah salah kaprah dalam memahami esensi perkawinan, tanpa kontrol, berbuat semaunya tentu perlahan-lahan nilai-nilai keluhuran yang ada dalam perkawinan menjadi tidak bermakna. Namun, bagi penganut Hindu Kaharingan bukan hal yang berlebihan dalam memandang tradisi dan nilai-nilai kearifan lokal yang diajarkan leluhur (tatu hiang) melalui ritual, mitos, legenda, tuturan, tata etika sebagai ajaran yang harus dipedomani, dilaksanakan, dan dilestarikan. Usaha ini tentu perlu dukungan mengingat Perkawinan antara Nyai Endas Bulau Lisan Tingang dan Raja Garing Hatungku sebagai pengejawantahan ajaran suci yang diyakini langsung bersumber dari Ranying Hatalla untuk dilaksanakan penganut Kaharingan dalam merefleksikan sradha dan bhaktinya. Tradisi dan nilai-nilai kearifan lokal yang ada dalam perkawinan Nyai Endas Bulau Lisan Tingang dan Raja Garing Hatungku untuk dapat digali, diangkat, selanjutnya dijadikan pedoman hidup menuju kehidupan berumah tangga ke arah yang lebih baik