Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HARI RAYA MOMENTUM MEMULAI KEHIDUPAN BARU made suyasa
Satya Sastraharing : Jurnal Manajemen Vol 3 No 01 (2019): Satya Sastraharing: Jurnal Manajemen
Publisher : Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABTRAKSI Setiap melakukan persembahyangan diawali dengan tangan kosong, dan diakhiri pula dengan tangan kosong pula. Bila hendak belajar untuk meningkatkan prestasi yang lebih baik berdasarkan hasil penelitian, harus di awali dengan pikiran yang kosong. Itulah sebabnya anak-anak pelajar dimasa lalu saat akan menghapi ujian mereka belajar lakukan tengah malam, begitu juga belajar ilmu kebatinan, ilmu hitam ilmu putih, karena pada jam-jam tersebut di kategorikan pikiran manusia masih murni dan belum di selimuti oleh hal-hal yang lainnya yang menyebabkan pikiran tertanggu, sehingga apa yang dibaca cepat terserap. Mesin-mesin bila hendak meningkatkan produksinya dengan baik, mesin itu harus diistirahatkan paling tidak 1-2 jam. Bila hendak membangun sebuah rumah, kantor, gedung, atau bangunan-bangunan lainya, rumput-rumput dan pohon-pohon di tempat itu harus di bersihkan, sehingga tanah itu menjadi kosong. Dalam Kitab Nitisastra ditegaskan dari kekesongan inilah lahir awal penciptaan. Dari kosong inilah lahir rwa bhineda (dualitas). Karena itu hari Raya tiada lain adalah sebagai awal memulai kehidupan/awal memulai kehidupan baru, awal kebangkitan dan sumber kekuatan dalam arti luas. Kata Kunci: Hari Raya mementom memulai kehidupan Baru
UKURAN BERAGAMA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI made suyasa
Satya Sastraharing : Jurnal Manajemen Vol 3 No 2 (2019): Satya Sastraharing: Jurnal Manajemen
Publisher : Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kita dikenal sebagai bangsa yang religius, bangsa yang ramah, bangsa yang teleran, bangsa yang taat tentang ajaran agamanya dan bangsa yang santun, terbukti dengan mudahnya suku-suku lain untuk tinggal dan menetap mencari penghidupan dan saling bekerja sama tanpa membeda-bedakan etnis, adat dan Agama. Mereka saling tolong menolong dan bergotong royong, segala permasalahan bisa diselasaikan dengan musyawarah mufakat dimasyarakat, namun belakangan ini, apalagi dibarangi dengan adanya pikada, pilpres dan memilih wakil-wakil kita keadaannya justru berbanding terbalik walaupun bukan seratus persen faktanya ada kita saksikan. Berkaitan dengan itu ukuran beragama dalam hidup kita sehari-hari bukan, rajinnya orang sembahyang, namun keteladanan yang menjadi ukurannya. Nilai-nilai yang selama ini dijunjung oleh bangsa Indonesia dan menjadi dasar pijakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Namun belakangan ketenangan, ketentraman, kedamaian sudah mulai terusik. Masyarakat menjadi begitu kasar dalam menyelesaikan suatu permasalahan, tak cukup dengan perang mulut saja, tetapi juga dengan kekerasan.Yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah ini bisa dijadikan ukuran kegagalan/keberhasilan beragama dalam kehidupan sehari-hari. Keberhasilan beragama dalam kehidupan sehari-hari adalah keteladanan bagi seseorang yang diberikan amanah dalam tata kelola kehidupan beragama. Kata Kunci: Ukuran Keberhasilan Beragama dalam Kehidupan sehari-hari.