Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Utilization of Tabut Local Wisdom in Social Studies Learning: Study of the Views and Strategies of Junior High School Teachers in Bengkulu City Irwan Satria; Salamah Salamah; Harapandi Dahri
Indonesian Journal of Social Science Education (IJSSE) Vol 6, No 2 (2024): Juli
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/ijsse.v6i2.4193

Abstract

Tabut is one of the traditions with a long socio-historical origin in Bengkulu, the implementation of Tabut continues to be carried out regularly every year (1-10 Muharam). In Bengkulu, the Tabut tradition is one of local wisdom characterized by moral values, especially religion and social values. From the educational perspective, specifically social studies education, Tabut’s local wisdom is very relevant to learning. This study aimed to 1) analyze the teacher's view of the integration of the value of Tabut local wisdom in social studies learning; 2) describe and analyze the social studies teachers' approaches and strategies in utilizing the value of Tabut local wisdom in social studies learning at junior high schools. This study was a descriptive qualitative research analysis. The object of the study was social studies learning in junior high schools in Bengkulu City. Data were elicited using interviews, questionnaires, and document analysis and literature study. Data analysis was carried out using an interactive model of Milles & Huberman. Based on the research, the results obtained are: 1) the use of local wisdom of Tabut in social studies learning at Junior High School in Bengkulu City is carried out with three main orientations, namely the cultivation of character values, the introduction of local Bengkulu culture and the use of local history and culture to enrich the national historical material. ; 2) the use of local wisdom of Tabut in social studies learning in junior high schools in Bengkulu City is carried out with an integrated approach to subjects, especially in the seventh grade (BC. 3.2 and BC. 3.4). As for the implementation of Tabut local wisdom in social studies learning, social studies teachers at SMP in Bengkulu City used two main strategies (models), namely Value Analysis and Value Clarification Techniques. Based on the results of research, it can be concluded that social studies teachers in Bengkulu City have positive views and have already utilized the Tabut local wisdom in social studies learning at Junior High School. However, the utilization has not well organized yet.
Analisis Literasi Digital dan Etika Berinternet (Cyber Ethics) pada Siswa Sekolah Dasar di Era Media Sosial Hasnatul Mardia; Triana Wulandari; Salamah Salamah
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol 7, No 3 (2026)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/afeksi.v7i3.872

Abstract

Perkembangan teknologi digital dan tingginya penggunaan media sosial pada siswa sekolah dasar menimbulkan berbagai permasalahan, terutama terkait rendahnya kemampuan literasi digital dan penerapan etika berinternet (cyber ethics), seperti penyebaran hoaks, perundungan digital, dan perilaku tidak bertanggung jawab di ruang digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat literasi digital dan etika berinternet pada siswa sekolah dasar, mengidentifikasi perilaku siswa dalam menggunakan media sosial, serta mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan etika digital dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif, dengan subjek penelitian terdiri dari siswa, guru, dan pihak terkait. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan serta diuji keabsahannya melalui triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat literasi digital siswa berada pada kategori cukup baik dalam penggunaan perangkat dan akses media sosial, namun masih rendah dalam kemampuan mengevaluasi informasi. Dari sisi etika berinternet, sebagian siswa telah memahami pentingnya berperilaku sopan, tetapi belum sepenuhnya menerapkannya secara konsisten. Perilaku siswa dalam menggunakan media sosial tergolong tinggi, namun belum sepenuhnya bijak dan bertanggung jawab, serta dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti peran orang tua dan guru. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa literasi digital dan etika berinternet memiliki keterkaitan yang erat dalam membentuk perilaku siswa di era media sosial, sehingga diperlukan integrasi literasi digital dan pendidikan etika dalam pembelajaran serta kolaborasi antara sekolah dan keluarga untuk membentuk siswa yang kritis, bijak, dan bertanggung jawab dalam menggunakan media digital.