This Author published in this journals
All Journal Jurnal Abdi Daya
Kusuma Wiranata, I Made
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KESIAPSIAGAAN DAN PEMETAAN ALIRAN LONGSOR BAHAN ROMBAKAN (DEBRIS FLOW) I Nengah Sinarta; Gede Sumanjaya, A.A; Surya Kumara, I Made; Adi Bhaskara, I Made; Kusuma Wiranata, I Made
Jurnal Abdi Daya 1-11
Publisher : Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/jad.4.2.2024.1-11

Abstract

Landslide events are natural phenomena where material on a slope adjusts to a new stability state. This process occurs when the load on the slope increases or its inclination becomes steeper, causing the material to slip along a critical failure plane. Such movements involve downward displacement of materials, which may include soil, rock, or artificial fill. Landslide disasters can be triggered by earthquakes or intense rainfall. On October 18, 2021, a magnitude 4.8 earthquake struck near Karangasem, Bali, at a depth of 10 km, leading to landslides that resulted in 2 fatalities and damage to 171 buildings in Bangli Regency. Areas at risk of landslides, such as Dusun Dukuh, require a disaster mitigation scheme to minimize losses in life and property. Currently, the disaster response team in Dusun Dukuh is underactive in public awareness and lacks understanding of maintaining the donated early warning system. The proposed solution involves strengthening the disaster response team through mapping debris flow-prone areas and improving evacuation methods and hazard recognition. The methodology includes two primary activities: identifying and mapping vulnerable settlements and conducting outreach and training on landslide signs and evacuation procedures. The findings highlight the need for comprehensive risk mapping and the development of a robust local volunteer network. Enhancing the disaster response team's capacity through modern technology and improved infrastructure has proven effective in increasing preparedness for debris flow events. With appropriate implementation strategies, risk mitigation in Dusun Dukuh can be more effective and responsive to future disaster threats
Peringatan Dini Terhadap Ancaman Banjir dan Longsor di Dusun Dukuh, Kintamani I Nengah Sinarta; Mahabojana, Kadek AGus; Kusuma Wiranata, I Made
Jurnal Abdi Daya 38-45
Publisher : Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/jad.5.1.2025.38-45

Abstract

Program Kemitraan Masyarakat (PKM) di Dusun Dukuh, Desa Abang Batudinding, Kecamatan Kintamani, dilaksanakan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman banjir bandang dan longsor. Wilayah ini sangat rentan terhadap bencana akibat kondisi geologi vulkanik, lereng terjal, serta intensitas hujan yang tinggi. Sebagai Dusun yang rawan bencana, dan sudah terbentuknya tim siaga bencana, perlu tetap dilakukan edukasi dan pemahaman teknologi peringatan dini sehingga kesiapsiagaan tetap berkelanjutan.Edukasi kesiapsiagaan dan Focus Group Discussion (FGD) dengan masyarakat, dilanjutkan dengan pemasangan alat Early Warning System (EWS) berbasis Internet of Things yang menunjukkan kondisi cuaca yang salah-satunya Adalah intensitas curah hujan. EWS di setting pada intensitas hujan 80 mm/jam dan 210 mm/jam dalam waktu 3 jam, untuk memberikan peringatan dini melalui bunyi dan notifikasi digital. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat, dengan rata-rata nilai pre-test sebesar 70 meningkat menjadi 90 pada post-test, yang menandakan adanya peningkatan kesadaran terhadap potensi bencana dan prosedur evakuasi.Dampak kegiatan menunjukkan kesiapan Tim Siaga Bencana, serta kebermanfaatan nyata dalam mengurangi risiko korban jiwa maupun kerugian material. Ke depan, tim PKM merencanakan pengembangan prototipe sensor pergerakan lereng untuk memperkuat sistem peringatan dini yang telah terpasang. Dengan demikian, program ini menjadi model mitigasi yang dapat direplikasi di wilayah rawan bencana serupa.