Cahya
Universitas Muhammadiyah Semarang

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Vagus Nerve Stimulation sebagai Terapi Ajuvan pada Gangguan Stress Pascatrauma: Tinjauan Pustaka Cahya
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 3 (2026): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.3 (2026)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i3.1096

Abstract

Pendahuluan: Gangguan stres pascatrauma (Post-Traumatic Stress Disorder/PTSD) merupakan gangguan psikiatri kronis yang ditandai oleh kegagalan regulasi emosi, hiperarousal, dan gangguan proses kepunahan ketakutan. Meskipun psikoterapi berbasis paparan merupakan terapi lini utama, angka kegagalan dan putus terapi masih tinggi, terutama pada kasus resisten. Vagus Nerve Stimulation (VNS) muncul sebagai pendekatan neuromodulasi yang berpotensi memperkuat mekanisme neurobiologis yang mendasari pembelajaran kepunahan ketakutan. Metode: Tinjauan pustaka ini dilakukan melalui penelusuran literatur pada Google Scholar, PubMed, ScienceDirect, dan Frontiers dengan kata kunci terkait VNS, PTSD, neuromodulasi, dan sistem saraf otonom. Literatur berbahasa Inggris yang diterbitkan antara tahun 2017–2025 diseleksi dan dianalisis secara naratif. Pembahasan: Literatur menunjukkan bahwa VNS, baik invasif maupun non-invasif, secara konsisten meningkatkan plastisitas saraf, menstabilkan sistem saraf otonom, serta memodulasi sirkuit otak yang terlibat dalam regulasi emosi dan kepunahan ketakutan. Studi preklinis dan klinis menunjukkan bahwa VNS yang dipasangkan dengan terapi paparan mampu menurunkan gejala PTSD, mengurangi hiperarousal, meningkatkan fungsi kognitif, serta menekan respons inflamasi yang dipicu oleh stres traumatik. Simpulan: Vagus Nerve Stimulation merupakan terapi ajuvan yang menjanjikan dalam penatalaksanaan PTSD, khususnya pada pasien yang kurang responsif terhadap terapi konvensional. Pendekatan ini mendukung paradigma psikiatri berbasis neurobiologi yang lebih presisi, meskipun masih diperlukan penelitian lanjutan untuk standarisasi protokol dan evaluasi efektivitas jangka panjang.