This study aims to explore how Generation Z interprets boxing as part of a lifestyle sport through the perspective of Symbolic Interactionism. The research is grounded in the phenomenon of a shifting meaning of boxing, which is no longer understood solely as a harsh and competitive sport, but also as a form of physical fitness, self-care, and a symbol of a modern lifestyle among young people. A qualitative case study approach was employed. Data were collected through in-depth interviews, observations in boxing training spaces, and visual and digital documentation, and analyzed using a descriptive-reflective method with source triangulation to ensure data credibility. The findings indicate that the meaning of boxing is constructed through a gradual process of symbolic interaction. Social media serves as the initial point of engagement, introducing visual symbols of boxing that generate interest prior to direct experience. Interactions within training environments, particularly with coaches and fellow trainees, reinforce meaning exchange and self-reflection. Over time, training routines are internalized as part of a more active, structured, and self-oriented daily rhythm. Boxing is ultimately interpreted as a symbol of discipline, self-confidence, and a modern lifestyle identity, while also fostering a sense of personal achievement and self-transformation in Generation Z’s everyday life. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana Generasi Z memaknai olahraga tinju sebagai bagian dari gaya hidup (lifestyle sport) melalui perspektif Teori Interaksi Simbolik. Penelitian ini berangkat dari fenomena pergeseran makna tinju yang tidak lagi dipahami semata sebagai olahraga keras dan kompetitif, tetapi juga sebagai sarana kebugaran, perawatan diri, serta simbol gaya hidup modern di kalangan generasi muda. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi di ruang latihan, serta dokumentasi visual dan digital, kemudian dianalisis secara deskriptif-reflektif dengan triangulasi sumber untuk menjaga kredibilitas data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemaknaan tinju terbentuk melalui proses interaksi simbolik yang berlangsung secara bertahap. Media sosial berperan sebagai pintu awal perjumpaan Generasi Z dengan simbol visual tinju yang menumbuhkan ketertarikan awal. Pengalaman langsung di ruang latihan, melalui interaksi dengan pelatih dan teman latihan, memperkuat pertukaran makna dan membentuk refleksi diri. Rutinitas latihan kemudian diinternalisasi sebagai bagian dari ritme hidup yang lebih aktif, terarah, dan berorientasi pada perawatan fisik serta emosional. Tinju dimaknai sebagai simbol kedisiplinan, kepercayaan diri, dan identitas gaya hidup modern, sekaligus menghadirkan rasa pencapaian dan transformasi diri dalam kehidupan sehari-hari Generasi Z.