Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penguatan Kapasitas Produksi Dan Pemasaran Garam Tradisional Di Pulau Solor: Strategi Berbasis Potensi Lokal Widiyastuti, Andriyani
Indo Green Journal Vol. 4 No. 2 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i2.130

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai tambah dan strategi usaha produksi garam di Desa Menanga Kecamatan Solor Timur Kabupaten Flores Timur. Metode Penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan melakukan penelitian lapang melalui wawancara kepada Kepala Desa, dan Petani Garam Desa Menanga. Metode Penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan melakukan penelitian lapang melalui wawancara kepada Kepala Desa, dan Petani Garam Desa Menanga. Analisis data yang digunakan dalam peneitian ini adalah metode deskriptif analisis, data yang terkumpul disusun, dijelaskan kemudian dianalisis dengan metode SWOT Internal Factor Analysis Summary (IFAS) dan Eksternal Factor Analysis Summary (EFAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi garam tradisional di Desa Menanga, Pulau Solor, masih didominasi oleh metode perebusan air laut melalui penyaringan tanah yang dilakukan secara turun-temurun, dengan pelaku utama adalah perempuan berusia 44–55 tahun dan berpengalaman lebih dari enam tahun. Produksi ini memiliki kekuatan pada kearifan lokal, pola gotong royong, serta karakter produk garam yang khas dan bernilai budaya, namun menghadapi berbagai keterbatasan seperti teknologi produksi yang sangat sederhana, kualitas garam yang belum terstandarisasi, kemasan yang minim, keterbatasan modal, serta rendahnya regenerasi petani garam. Secara ekonomi, data menunjukkan penurunan pendapatan signifikan pada periode 2019–2021 yang dipengaruhi oleh perubahan iklim, ketergantungan pada cuaca, dan lemahnya pengelolaan produksi. Hasil analisis SWOT melalui matriks IFAS dan EFAS menempatkan industri garam tradisional Solor pada Kuadran I (Strength–Opportunity) dengan nilai IFAS 1,45 dan EFAS 1,54, yang mengindikasikan bahwa kekuatan internal dan peluang eksternal lebih dominan dibandingkan kelemahan dan ancaman. Temuan ini menegaskan bahwa industri garam Solor layak dikembangkan dengan strategi pertumbuhan yang menitikberatkan pada diferensiasi produk, penguatan branding sebagai garam alami dan tradisional, serta peningkatan kualitas produksi secara bertahap melalui dukungan kebijakan dan kolaborasi eksternal.
Penguatan Kapasitas Produksi Dan Pemasaran Garam Tradisional Di Pulau Solor: Strategi Berbasis Potensi Lokal Widiyastuti, Andriyani
Indo Green Journal Vol. 4 No. 2 (2026): Green 2026
Publisher : Published by Institut Teknologi Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/green.v4i2.130

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai tambah dan strategi usaha produksi garam di Desa Menanga Kecamatan Solor Timur Kabupaten Flores Timur. Metode Penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan melakukan penelitian lapang melalui wawancara kepada Kepala Desa, dan Petani Garam Desa Menanga. Metode Penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan melakukan penelitian lapang melalui wawancara kepada Kepala Desa, dan Petani Garam Desa Menanga. Analisis data yang digunakan dalam peneitian ini adalah metode deskriptif analisis, data yang terkumpul disusun, dijelaskan kemudian dianalisis dengan metode SWOT Internal Factor Analysis Summary (IFAS) dan Eksternal Factor Analysis Summary (EFAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi garam tradisional di Desa Menanga, Pulau Solor, masih didominasi oleh metode perebusan air laut melalui penyaringan tanah yang dilakukan secara turun-temurun, dengan pelaku utama adalah perempuan berusia 44–55 tahun dan berpengalaman lebih dari enam tahun. Produksi ini memiliki kekuatan pada kearifan lokal, pola gotong royong, serta karakter produk garam yang khas dan bernilai budaya, namun menghadapi berbagai keterbatasan seperti teknologi produksi yang sangat sederhana, kualitas garam yang belum terstandarisasi, kemasan yang minim, keterbatasan modal, serta rendahnya regenerasi petani garam. Secara ekonomi, data menunjukkan penurunan pendapatan signifikan pada periode 2019–2021 yang dipengaruhi oleh perubahan iklim, ketergantungan pada cuaca, dan lemahnya pengelolaan produksi. Hasil analisis SWOT melalui matriks IFAS dan EFAS menempatkan industri garam tradisional Solor pada Kuadran I (Strength–Opportunity) dengan nilai IFAS 1,45 dan EFAS 1,54, yang mengindikasikan bahwa kekuatan internal dan peluang eksternal lebih dominan dibandingkan kelemahan dan ancaman. Temuan ini menegaskan bahwa industri garam Solor layak dikembangkan dengan strategi pertumbuhan yang menitikberatkan pada diferensiasi produk, penguatan branding sebagai garam alami dan tradisional, serta peningkatan kualitas produksi secara bertahap melalui dukungan kebijakan dan kolaborasi eksternal.