Syafi’uddin, Syafi’uddin
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The transformation of the sacred meaning of Sepilar Temple Malang through symbolic interaction between generations Syafi’uddin, Syafi’uddin; Tualeka, Muhammad Nur Wahid; Anam, Khoirul
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 10 No. 1 (2026): April (On Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v10i1.43885

Abstract

The transformation of sacred meaning is shaped not only by technological developments but also by processes of interpretation that occur through social interaction. This article examines how the sacred meaning of Candi Sepilar in East Java is constructed and negotiated across generations within the context of digital representation. The study employs a qualitative approach with an interpretive paradigm and draws on the framework of symbolic interactionism to understand how social actors interpret symbols, spaces, and practices associated with sacredness. Data were collected through field observations, in-depth interviews with traditional custodians and members of Generation Z, and an analysis of fourteen TikTok posts representing Candi Sepilar. The data were analyzed using a thematic-interpretive approach to explore the processes through which meanings are produced and negotiated in everyday social practices. The findings indicate that the older generation interprets Candi Sepilar as a spiritual space connected to cosmological relationships between humans, ancestors, and nature, maintained through ethical norms and ritual practices. In contrast, the younger generation tends to interpret the site through reflective experiences, historical value, and visual representations mediated by social media. Interaction between the two generations does not result in a conflict of meanings but instead generates processes of symbolic negotiation that allow multiple interpretations of sacredness to coexist. These findings reveal a form of sacredness that can be understood as hybrid sacredness, a configuration of sacred meaning that is preserved through ethical norms and local cultural memory while simultaneously being represented through digital media within intergenerational interaction.   Transformasi makna sakral tidak hanya dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, tetapi juga oleh proses interpretasi makna yang berlangsung melalui interaksi sosial. Artikel ini menganalisis bagaimana makna kesakralan Candi Sepilar di Jawa Timur dikonstruksi dan dinegosiasikan lintas generasi dalam konteks representasi digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma interpretatif dan kerangka interaksionisme simbolik untuk memahami bagaimana aktor sosial memaknai simbol, ruang, dan praktik yang terkait dengan kesakralan. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara mendalam dengan penjaga tradisi dan generasi muda (Gen Z), serta analisis terhadap empat belas unggahan TikTok yang merepresentasikan Candi Sepilar. Analisis dilakukan secara tematik-interpretatif untuk menelusuri proses produksi dan negosiasi makna dalam praktik sosial sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa generasi tua memaknai Candi Sepilar sebagai ruang spiritual yang terkait dengan relasi kosmologis antara manusia, leluhur, dan alam yang dipertahankan melalui norma etika dan praktik ritual. Sebaliknya, generasi muda cenderung memaknai ruang tersebut melalui pengalaman reflektif, nilai sejarah, dan representasi visual yang dimediasi oleh media sosial. Interaksi antara kedua generasi tidak menghasilkan konflik makna, tetapi membentuk proses negosiasi simbolik yang memungkinkan berbagai interpretasi kesakralan hidup berdampingan. Temuan ini menunjukkan bentuk kesakralan yang dapat dipahami sebagai sakralitas hibrid, yaitu konfigurasi makna sakral yang dipertahankan melalui norma etika dan memori budaya lokal sekaligus direpresentasikan melalui medium digital dalam interaksi lintas generasi.
PENDAMPINGAN DIVERSIFIKASI PRODUK KULIT KOPI MENJADI SIRUP KOMBUCHA CASCARA Yosika, Nur Ida Winni; Purbasari, Dian; Taruna, Iwan; Sutarsi, Sutarsi; Lestari, Ning Puji; Pambudi, Akbar Setyo; Rivana, Estria Devi; Setyawan, Tegar Budi; Syifa’uddin, Syifa’uddin; Syafi’uddin, Syafi’uddin
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i2.38115

Abstract

Abstrak: Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan hard skill dan soft skill mitra CV Masiyan Coffee Farmer melalui pendampingan pengolahan limbah kulit kopi arabika menjadi sirup kombucha cascara sebagai inovasi teknologi pascapanen. Hard skill yang ditingkatkan meliputi keterampilan pengolahan cascara, fermentasi kombucha, dan pembuatan sirup, sedangkan soft skill mencakup kerja sama, kepercayaan diri, dan kesiapan berwirausaha. Metode pelaksanaan meliputi survei, Focus Group Discussion (FGD), sosialisasi, pelatihan praktik, dan pendampingan. Kegiatan ini diikuti oleh 15 peserta. Evaluasi dilakukan menggunakan kuesioner dengan 6 indikator, yaitu pemahaman materi, kejelasan penyampaian, ketersediaan alat dan bahan, pemahaman fermentasi, peningkatan keterampilan, serta minat praktik mandiri. Hasil evaluasi menunjukkan 100% peserta mengalami peningkatan pemahaman dan keterampilan teknis, serta 80% peserta mampu mereplikasi produk untuk konsumsi keluarga. Selain itu, mitra berhasil memproduksi sirup kombucha cascara dalam skala uji coba dan menjalin kerja sama pemasaran ke Denpasar dan Malang. Hasil ini menunjukkan bahwa kegiatan efektif dalam meningkatkan kapasitas pascapanen dan membuka peluang ekonomi berbasis komunitas.Abstract: This community service program aimed to improve both hard skills and soft skills of the CV Masiyan Coffee Farmer partners through mentoring on the utilization of arabica coffee husk waste into cascara kombucha syrup as a postharvest innovation. The developed hard skills included cascara processing, kombucha fermentation, and syrup formulation, while soft skills covered teamwork, self-confidence, and entrepreneurial readiness. The program was implemented through field surveys, Focus Group Discussions (FGD), socialization, hands-on training, and mentoring, involving 15 participants. Evaluation was conducted using a questionnaire consisting of six indicators, namely material comprehension, clarity of delivery, adequacy of tools and materials, understanding of the fermentation process, improvement of skills, and intention for independent practice. The results showed that 100% of participants experienced increased technical knowledge and skills, while 80% were able to replicate the product for household consumption. In addition, the partner successfully produced cascara kombucha syrup at a trial scale and established marketing cooperation with buyers in Denpasar and Malang. These results indicate that the program effectively enhanced postharvest capacity and generated sustainable community-based economic opportunities.