Struktur bangunan idealnya memiliki bentuk yang beraturan (regular). Namun, sering kali bangunan didesain dengan bentuk yang tidak beraturan (irregular). Terdapat banyak bangunan dengan peruntukan sebagai hotel dan apartemen yang memiliki denah berbentuk huruf L. Pada bangunan yang memiliki denah berbentuk huruf L akan cenderung terdapat daerah reentrant corner. Lokasi reentrant corner merupakan indikasi adanya tegangan yang terkonstrasi pada pelat lantai struktur tersebut. Dalam pemodelan analisis struktur, diafragma dapat diasumsikan sebagai diafragma kaku (rigid diaphragm), dan diafragma semi-kaku (semi-rigid diaphragm). Pada pemodelan semi-rigid diaphragm, pelat lantai dapat berdeformasi kearah bidangnya. Oleh karena itu, pemodelan dengan semi-rigid diaphragm akan memberikan nilai tegangan pada pelat lantai. Nilai tegangan pada daerah reentrant corner berkaitan langsung dengan resutan gaya tarik yang terjadi. Kenaikan gaya tarik dapat menyebabkan kerusakan lokal pada daerah reentrant corner, sehingga diperlukan tulangan tarik tambahan. Konsentrasi tegangan pada reentrant corner juga dipengaruhi penempatan posisi dinding geser dan perbandingan panjang sayap atas dan sayap bawah. Dari hasil analisis, terjadi kenaikan resultan gaya tarik pada daerah reentrant corner seiring bertambahnya perbandingan panjang sayap dan penambahan shear wall pada bagian sayap bawah. Kenaikan tegangan menyebabkan kebutuhan tulangan tarik tambahan pada pelat di daerah reentrant corner. Tegangan dan gaya pada pelat lantai bernilai nol pada model dengan klasifikasi diafragma kaku (rigid).