Pantang larang dalam budaya Melayu merupakan sistem nilai tradisional yang berperan penting dalam mengatur kehidupan sosial, termasuk dalam praktik kepemimpinan. Nilai-nilai tersebut tidak hanya berfungsi sebagai larangan normatif, tetapi juga sebagai mekanisme kultural yang membentuk karakter dan etika pemimpin. Dalam konteks ini, pantang larang menjadi bagian dari proses internalisasi nilai yang berlangsung secara turun-temurun dalam masyarakat Melayu. Kajian ini berfokus pada pemahaman mengenai bentuk, makna, serta fungsi pantang larang dalam kepemimpinan Melayu, terutama dalam kaitannya dengan dinamika kepemimpinan masa kini. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menitikberatkan pada studi kepustakaan, melalui pemanfaatan berbagai sumber seperti buku ilmiah, jurnal, serta karya sastra Melayu klasik.. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan pendekatan analisis isi, dengan tujuan untuk menemukan serta memahami berbagai nilai yang terkandung dalam pantang larang. Hasil kajian menunjukkan bahwa pantang larang dalam kepemimpinan Melayu mencakup dimensi moral, sosial, dan spiritual yang saling terintegrasi. Nilai-nilai seperti keadilan, kebijaksanaan, kesantunan, dan tanggung jawab menjadi fondasi utama dalam membangun kepemimpinan yang berintegritas. Di sisi lain, dalam konteks modern, nilai-nilai tersebut tidak selalu dapat diterapkan secara literal, sehingga memerlukan reinterpretasi yang kontekstual agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Dengan demikian, Pantang larang tidak hanya dipahami sebagai warisan budaya, tetapi juga dapat menjadi sumber nilai etis yang tetap adaptif dalam praktik kepemimpinan masa kini.