Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam hubungan dan pengaruh antara variasi pola asuh orang tua dengan tingkat kecerdasan emosional (KE) yang dimiliki oleh anak-anak Kelompok B di TK Margosari. Kecerdasan emosional, yang mencakup kemampuan mengenali, memahami, mengelola emosi diri, dan berinteraksi secara efektif, merupakan fondasi krusial bagi kesiapan sosial dan akademik anak usia dini. Konteks permasalahan utama yang diangkat adalah adanya indikasi perbedaan signifikan pada kemampuan regulasi emosi dan interaksi sosial anak, yang diduga kuat berkorelasi dengan perbedaan cara orang tua dalam memberikan pengasuhan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-deskriptif dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara mendalam dengan orang tua dan guru, serta studi dokumentasi, dengan fokus pada pemetaan jenis pola asuh (otoritatif, permisif, atau otoriter) yang dominan dan korelasinya terhadap dimensi-dimensi KE anak (seperti kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial). Hasil analisis menemukan bahwa pola asuh Demokratis yang cenderung hangat, responsif, dan menetapkan batasan yang jelas, berkorelasi positif dengan tingkat kecerdasan emosional yang tinggi, ditunjukkan dengan kemampuan anak yang lebih baik dalam mengatasi frustrasi, menunjukkan empati, dan berhasil dalam negosiasi sosial. Sebaliknya, pola asuh Otoriter cenderung menghasilkan anak dengan tingkat pengendalian emosi yang rendah dan kesulitan dalam mengungkapkan perasaan secara verbal, sementara pola asuh Permisif berkorelasi dengan kurangnya disiplin diri dan regulasi emosi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peran orang tua sebagai model utama dalam pembentukan kecerdasan emosional anak di TK Margosari adalah faktor yang sangat menentukan.