Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rekonstruksi makna simbolik dalam upacara adat di Indonesia sebagai akibat interaksi antara modernisasi dan digitalisasi. Fokus utama penelitian terletak pada bagaimana perubahan sosial dan teknologi memengaruhi cara masyarakat memahami, mempertahankan, dan mengadaptasi simbol budaya dalam praktik ritual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain multi-kasus komparatif. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, serta analisis dokumentasi dan konten digital. Analisis data dilakukan dengan teknik tematik dan semiotik untuk mengidentifikasi pola perubahan makna simbolik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rekonstruksi makna simbolik berlangsung melalui tiga pola utama, yaitu reduksi makna, transformasi makna, dan reproduksi makna dalam ruang digital. Reduksi makna terjadi ketika simbol budaya kehilangan kedalaman filosofis akibat komodifikasi dan penyederhanaan visual. Transformasi makna mencerminkan adaptasi masyarakat dalam menyesuaikan simbol dengan konteks modern. Sementara itu, reproduksi makna menunjukkan peran media digital sebagai ruang baru dalam membentuk dan menyebarkan makna budaya secara lebih luas. Faktor kelembagaan adat, peran tokoh budaya, serta keterlibatan generasi muda menjadi penentu penting dalam proses tersebut. Penelitian ini menegaskan bahwa digitalisasi tidak hanya berfungsi sebagai alat, tetapi juga sebagai agen aktif dalam perubahan budaya. Oleh karena itu, pelestarian budaya perlu dilakukan melalui pendekatan adaptif yang menjaga keseimbangan antara inovasi dan nilai simbolik.