Latar Belakang: Burnout merupakan salah satu masalah kesehatan kerja yang banyak terjadi pada pekerja industri, terutama pada bagian produksi yang memiliki tuntutan kerja tinggi, pekerjaan monoton, serta jam kerja yang panjang. Kondisi ini dapat berdampak pada penurunan produktivitas, peningkatan kesalahan kerja, serta gangguan kesehatan fisik maupun psikologis. Observasi awal di PTXYZ menunjukkan adanya keluhan kejenuhan dan kelelahan pada pekerja produksi yang mengarah pada risiko burnout. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian burnout pada pekerja bagian produksi di PT XYZ tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 55 responden dari total populasi 60 pekerja produksi yang ditentukan menggunakan rumus Slovin. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner karakteristik responden, Maslach Burnout Inventory (MBI) untuk mengukur burnout, Occupational Stress Inventory–Revised (OSI-R) untuk mengukur stres kerja, serta pengukuran beban kerja fisik menggunakan persentase Cardiovascular Load (%CVL). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 80% responden mengalami burnout. Mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki (90,9%), berusia >40 tahun (58,2%), dan memiliki masa kerja >5 tahun (78,2%). Sebagian besar responden mengalami stres kerja berat (81,8%) dan beban kerja tinggi (83,6%). Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan signifikan antara usia dengan burnout (p=0,038), stres kerja dengan burnout (p=0,002) dan beban kerja dengan burnout (p=0,001). Kesimpulan: Burnout banyak ditemukan pada pekerja bagian produksi di PT XYZ tahun 2025. Variabel usia, stres kerja dan beban kerja fisik merupakan faktor risiko utama yang berhubungan signifikan dengan kejadian burnout. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengendalian stres kerja dan penyesuaian beban kerja untuk menurunkan risiko burnout pada pekerja.