Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kompetensi guru dan sikap mereka terkait pendidikan inklusif di sebuah sekolah inklusi di daerah Tangerang Selatan. Tantangan utama dalam penerapan pendidikan inklusif di sebuah sekolah inklusi di daerah Tangerang Selatan adalah pandangan negatif guru terhadap siswa berkebutuhan khusus (ABK), yang sering dilabel dengan istilah seperti "anak nakal" atau "tidak mampu belajar". Pandangan ini mencerminkan kurangnya pemahaman guru, berdampak pada kondisi emosional siswa ABK, dan menghambat partisipasi mereka dalam proses pembelajaran. Selain itu, pengelompokan siswa ABK yang tidak sesuai dengan kebutuhan spesifik serta minimnya adaptasi metode pembelajaran mengakibatkan potensi siswa tidak berkembang secara optimal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan regresi linear sederhana. Partisipan penelitian berjumlah 24 guru dari jenjang TK-A hingga kelas 6 SD. Data dikumpulkan menggunakan instrumen KGI (Inventaris Kompetensi Guru Pendidikan Inklusif) dan MATIES (Skala Sikap Guru tentang Pendidikan Inklusif) dengan skala Likert 4 poin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi guru berhubungan secara signifikan dengan sikap guru terkait pendidikan inklusif dengan kontribusi sebesar 35,7%, yang mengindikasikan bahwa peningkatan kompetensi guru melalui pelatihan berbasis praktik (misalnya strategi diferensiasi, manajemen kelas inklusif, dan penyusunan PPI) berpotensi memperkuat sikap positif guru. Secara umum, kompetensi guru berada pada kategori tinggi dengan skor bervariasi, dan mayoritas guru memiliki sikap positif, meskipun beberapa masih pada kategori sedang. Penelitian ini juga merekomendasikan eksplorasi faktor lain yang memengaruhi sikap guru. Temuan ini memberikan kontribusi unik sebagai dasar empiris dalam merancang kurikulum pelatihan guru yang lebih kontekstual, aplikatif, dan berfokus pada perubahan sikap dalam praktik pendidikan inklusif.