Riset ini dirancang dengan tujuan menyelami pola interaksi kolaboratif dalam ruang digital serta mengukur dampak pembelajaran dengan basis Micro:bit terhadap pengembangan kemampuan Computational Thinking (CT) pada siswa, khususnya di era transformasi kurikulum berbasis digital. Dengan menerapkan metodologi penelitian kualitatif melalui desain studi kasus yang dilaksanakan di Charoensuksa School di Thailand, partisipan penelitian terdiri dari siswa tingkat menengah pertama, pengajar mata pelajaran informatika, serta pimpinan institusi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggabungkan beberapa pendekatan, yaitu percakapan mendalam, pengamatan langsung dalam setting kelas, dan pengolahan respon naratif dari para informan. Melalui penguraian tematis, diungkapkan bahwa karakteristik Micro:bit yang menggabungkan dimensi fisik dan digital menghasilkan respons visual yang cepat, yang terbukti sangat efektif dalam meningkatkan partisipasi emosional dan dorongan intrinsik siswa. Hasil analisis utama menunjukkan bahwa kolaborasi berperan sebagai dukungan berlapis dalam dimensi sosial dan kognitif, dengan menunjukkan bahwa proses tawar menawar gagasan dan ketegangan intelektual saat mengatasi kesalahan program sebenarnya memperkuat pemahaman terhadap prinsip algoritma serta strategi pemecahan masalah. Studi ini menyimpulkan bahwa penerapan teknologi fisik terbukti efektif dalam memahami pemahaman konkret menuju gagasan abstrak, asalkan didampingi dengan kerangka kerja kolaborasi yang terumuskan dengan baik. Rekomendasi praktis tekanan kebutuhan akan panduan sistematis dalam menangani dan memperbaiki kesalahan program guna meningkatkan pengembangan CT sekaligus mengurangi rasa frustasi yang timbul dari hambatan teknis.