Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

SIGNIFIKANSI PERBEDAAN RESPON TIANG FONDASI ANTARA MODEL TERPISAH DAN SIMULTAN DALAM ANALISIS INTERAKSI STRUKTUR-TANAH: STUDI NUMERIK PADA GEDUNG C-D ITERA Aprilia, Ayu Sinta; Rahmat Kurniawan; Septian Hidayat; Ahmad Auliadi Y
Jurnal Teknik Gradien Vol 18 No 01 (2026): JURNAL TEKNIK GRADIEN (On progress)
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ngurah Rai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47329/teknikgradien.v18i01.1706

Abstract

Fondasi tiang pada bangunan bertingkat berperan kritis dalam mentransfer beban struktur ke lapisan tanah yang lebih dalam dan kompeten. Analisis interaksi struktur-tanah (Soil-Structure Interaction/SSI) merupakan aspek fundamental dalam desain fondasi, terutama di Indonesia yang merupakan kawasan rawan gempa dengan karakteristik tanah yang beragam, mulai dari lempung lunak hingga lempung kaku. Dalam praktik rekayasa geoteknik, terdapat dua pendekatan analisis yang umum digunakan, yaitu model terpisah (decoupled) dan model simultan (coupled). Meskipun keduanya telah banyak diterapkan, signifikansi praktis dari perbedaan respon yang dihasilkan kedua pendekatan tersebut belum banyak dikaji dalam konteks desain berbasis standar SNI. Penelitian ini menganalisis signifikansi perbedaan respon sistem fondasi tiang antara pendekatan model terpisah dan model simultan dalam analisis interaksi struktur-tanah. Studi numerik dilakukan pada Gedung C-D Institut Teknologi Sumatera yang merupakan bangunan 3 lantai dengan sistem fondasi tiang bor pada tanah lempung kaku. Analisis model terpisah menggunakan kombinasi software ETABS dan GROUP, sedangkan model simultan menggunakan ETABS terintegrasi dengan pemodelan soil spring nonlinear (p-y, t-z, dan q-z). Evaluasi dilakukan terhadap 10 konfigurasi pilecap dengan tiga kondisi pembebanan (statik, gempa nominal, gempa kuat) berdasarkan empat parameter utama: gaya aksial, momen lentur, gaya geser, dan defleksi lateral. Berbeda dengan studi sebelumnya yang hanya melaporkan selisih relatif, penelitian ini mengevaluasi signifikansi praktis menggunakan rasio pemanfaatan (utilization ratio). Hasil menunjukkan bahwa meskipun selisih relatif dapat mencapai ratusan persen pada parameter tertentu, perbedaan rasio pemanfaatan (ΔUR) umumnya berkisar 2-7% untuk konfigurasi pilecap sederhana dan 12-14% untuk pilecap multi-kolom. Kedua pendekatan menghasilkan desain yang memenuhi kriteria keamanan SNI 2847:2019 dan SNI 8460:2017. Pendekatan berbasis utilization ratio memberikan perspektif yang lebih bermakna dalam menilai signifikansi perbedaan metode analisis fondasi.
Comparative Assessment of Empirical Methods for Bored Pile Capacity Prediction Against Static Load Test Data in Indonesia Rahmat kurniawan; Chindy Akila; Rifky Fauzi; Ayu Sinta Aprilia; Yunita Asni; Ahmad Auliadi Y
Rekayasa Sipil Vol. 20 No. 2 (2026): Rekayasa Sipil Vol. 20 No. 2
Publisher : Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.rekayasasipil.2026.020.02.11

Abstract

Accurate estimation of the bearing capacity of bored-pile foundations is essential to ensure both the safety and cost-effectiveness of foundation design. However, empirical design formulas are derived from simplified assumptions and may not fully represent actual soil–pile behavior in the field, leading to overestimation or underestimation of capacity if their performance is not carefully evaluated. This study compares the predictive performance of three SPT-based empirical methods—Meyerhof (1976), Reese & Wright (1977), and O’Neill & Reese (1999)—against Static Load Test (SLT) results interpreted using the Davisson, Chin, and Mazurkiewicz methods. A database of 10 bored-pile projects from various regions across Indonesia was analyzed. Given the limited sample size (n = 10), all findings are presented as preliminary evidence rather than definitive conclusions, and statistical estimates carry substantial uncertainty that should inform interpretation. Statistical evaluation employed correlation analysis (r, R²), bias factor (?), coefficient of variation (COV), and mean absolute percentage error (MAPE). Results indicate that the O’Neill & Reese method demonstrates the strongest correlation with Davisson-interpreted SLT results (R² = 0.853), while the Meyerhof method yields a mean bias factor closest to unity (? = 1.00). A performance ranking matrix is informed by concepts commonly adopted in LRFD calibration studies. These results indicate that differences in predictive performance reflect how each empirical formulation represents field behavior and suggest differentiated use of methods depending on the design stage. However, recommendations require validation against larger databases before widespread adoption.