Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas Metode GASING (Gampang, Asik, dan Menyenangkan) dalam meningkatkan kompetensi numerasi guru dan siswa di Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat sebagai salah satu daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-eksperimental tipe one-group pretest-posttest. Subjek penelitian terdiri atas 46 guru dan 96 siswa sekolah dasar yang mengikuti program intensif selama tiga minggu (10–30 Juni 2025). Instrumen penelitian berupa tes tertulis yang mengukur lima kompetensi dasar berhitung, yaitu Bakal Kubagi, penjumlahan, perkalian, pengurangan, dan pembagian. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan, ditandai dengan kenaikan rata-rata skor guru dari 32,33 menjadi 79,83 dengan nilai N-Gain sebesar 0,702 (kategori tinggi), serta peningkatan rata-rata skor siswa dari 10,51 menjadi 75,51 dengan nilai N-Gain sebesar 0,727 (kategori tinggi). Hasil uji Paired Sample t-Test menunjukkan perbedaan yang signifikan secara statistik (α = 0,05) pada seluruh kompetensi yang diukur. Temuan ini menunjukkan bahwa Metode GASING efektif dalam meningkatkan kemampuan numerasi melalui pendekatan bertahap konkrit–abstrak–komputasi mental yang dikemas secara interaktif dan menyenangkan. Penelitian ini memberikan kontribusi empiris bagi pengembangan kebijakan pendidikan berbasis bukti di daerah 3T, serta menegaskan pentingnya intervensi terpadu yang menyasar guru dan siswa dalam satu ekosistem pembelajaran. Abstrak: This study aims to analyze the effectiveness of GASING Method (Easy, Fun, and Enjoyable) in improving numeracy competencies among teachers and students in Teluk Wondama Regency, West Papua one of Indonesia's underdeveloped frontier regions. Using a quantitative approach with a pre-experimental one-group pretest-posttest design, the study involved 46 teachers and 96 students from various primary schools who participated in a three-week intensive program (10–30 June 2025). The research instruments consisted of written arithmetic tests covering five core competencies: Basic Number Sense (Bakal Kubagi), Addition, Multiplication, Subtraction, and Division. Results demonstrated highly significant improvements: teachers' mean scores increased from 32.33 (pre-test) to 79.83 (post-test) with an N-Gain of 0.702 (High category), while students' mean scores rose from 10.51 (pre-test) to 75.51 (diagnostic test) with an N-Gain of 0.727 (High category). Paired Sample t-Test analyses revealed statistically significant differences (α = 0.05) across all measured competencies. Both groups' N-Gain scores substantially exceeded the international average of 0.34 reported in comparable intervention studies (Westphale et al., 2022). These findings demonstrate that the GASING Method with its sequential concrete–abstract–mental computation approach delivered through playful, interactive activities is an effective and replicable solution for addressing the numeracy crisis in Indonesia's remote regions. This research contributes to evidence-based education policy development in underserved areas and reinforces the importance of integrated interventions targeting both teachers and students simultaneously within a unified learning ecosystem.