Seorang pelakon, seorang penyair, dan seorang pelukis, bersama-sama keluar darihalaman TIM, berjalan kaki lewat Kalipasir ke Kernolong, hendak ke Senen.Di depan sebuah rumah di kawasan padat Kalipasir, seorang buyung ketagihan narkoba,duduk dengan wajah kuyu, tiada berpengharapan, kayaknya sebentar lagi modar.Maka berkatalah sang penyair kepada sang pelakon dan sang pelukis, "Kasihan sekalibuyung itu. Hari-harinya gelap seperti jelaga. Tapi, terus terang, tiba-tiba aku mendapat ilhamdari realitas ini. Aku akan menulis sebuah puisi yang niscaya mampu mengejawantahkankesuramannya. Aku kira tidak ada kekuatan dari peradaban manusia yang lebih ampuh daripadakata, bahasa, piranti budaya yang sanggup mewakili pikiran yang dikcindung otak dan perasaanyang dikandung hati. Adalah kata yang dapat membual benci dan perang, serta kata pula vangdapat membuat cinta dan damai. Puisi yang bersandar pada kata, sebab puisi percaya pada nilaitembus ruangnya kata. Bagaimana pendapat kalian?"Sang pelakon menjawab.Yang menjawab sang pelukis. "Baik ."Karena sang pelakon diam, sang penyair pun bertanya kepadanya, "Bagaimana pikirandan perasaannmu melihat buyung itu? Apakah kamu tidak terharu dan iba melihat nasibnya?"Jawab sang pelakon, 'T id ak . Aku pun pernah menjadi seperti itu. Dan, orang-orang yangmenyaksikan aku, semua memberi aplaus, tepuk tangan apresiasi, memuji aktingku. Ketika akumelakukan aktingku itu, aku memerintah ilham, memanfaatkan alat-alat tuhuhku, roh dan jiwa,untuk membuat diriku benar benar meyakinkan seperti itu. Sebelum sanggup melakukan itu,terlebih dulu aku melakukan observasi kejiwaan dalam tiga cara, yaitu introspeksi: mengamatiproses penghayatan atas kejadian yang sudah berlangsung di dalam diri; ekstrospeksi:mengamati proses penghayatan atas kejadian yang sudah berlangsung di luar diri; retrospeksi:mengamati sambil menghayati proses kejiwaan yang sedang berlangsung di dalam diri. Hasilobservasi ini aku simpan di dalam suatu wadah dalam tubuh-roh-jiwa yang aku sebut ’modusk reatif sebagai sukucadang ilham. Begitu aku membutuhkannya, aku panggil untuk membajudiriku, mencipta aktingku. Ini yang aku maksudkan tentang kemampuanku memerintah ilhamBukan menunggu ilham."
Copyrights © 2007