Remy Sylado
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Fatsal Makan: Jauhkan Kami dari Roh Kebebalan Kombangang Sylado, Remy
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 1 (2016): ECF Fashion, Sex & Culinary
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fatsal Makan: Jauhkan Kami dari Roh Kebebalan Kombangang
MENCARI DAN TIDAK MENEMUKAN SYLADO, REMY
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 1 (2015): ECF Filsafat Uang
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

"No onewould have remembered the Good Samaritan if hed only had good intentions. He hadmoney as well.” (Margaret Thatcher)
Humor dan Bahasa : LANTAS, APA SALAHNYA KETAWA? Sylado, Remy
Extension Course Filsafat ( ECF ) No 2 (2014): ECF Filsafat Humor
Publisher : Extension Course Filsafat ( ECF )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Humor adalah fenomena aneh dan penuh paradoks: sesuatu yang sebenarnya tidak serius -bahkan pernah dianggap jahat – namun di sisi lain ternyata juga dianggap sangat penting. Plato sempat menganggap humor dan tertawa sebagai kejahatan, sejajar dengan penghinaan. Kaum Stoa, biarawan-biarawan Kristiani purba, hingga beberapa filsuf abad 17, melihat tertawa sebagai kekurangan pengendalian diri. Psikoanalisis Freudian menganggap humor sebagai bentuk terselubung kedengkian dan naluri liar libido. Namun kini orang cenderung melihat sebaliknya: kini humor dilihat justru sebagai kecerdasan kritis, secara psikologis mencerminkan fleksibilitas mental, secara fisik menurunkan tegangan dan memacu imunitas, secara sosial merupakan lubrikan yang memperlancar hubungan interpersonal.  Sempat pula ada anggapan bahwa humor merupakan indikator adanya ketertekanan masif. Sementara di sisi lain konon humor juga menunjukkan kematangan psikologis dan religius.   Extension Course Filsafat kali ini bermaksud hendak memahami kompleksitas dari gejala yang disebut ‘humor’ itu, dengan mencoba melihatnya dari bermacam perspektif, antara lain : dari sudut filsafat, neuroscience, psikologi, bahasa, budaya, agama, dll.
PROSES KREATIF DENGAN PENCITRAAN ESTETIKA DALAM ETIKA Remy Sylado
Ars: Jurnal Seni Rupa dan Desain No. 4 / Januari - April 2007
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ars.v1i4.246

Abstract

Seorang pelakon, seorang penyair, dan seorang pelukis, bersama-sama keluar darihalaman TIM, berjalan kaki lewat Kalipasir ke Kernolong, hendak ke Senen.Di depan sebuah rumah di kawasan padat Kalipasir, seorang buyung ketagihan narkoba,duduk dengan wajah kuyu, tiada berpengharapan, kayaknya sebentar lagi modar.Maka berkatalah sang penyair kepada sang pelakon dan sang pelukis, "Kasihan sekalibuyung itu. Hari-harinya gelap seperti jelaga. Tapi, terus terang, tiba-tiba aku mendapat ilhamdari realitas ini. Aku akan menulis sebuah puisi yang niscaya mampu mengejawantahkankesuramannya. Aku kira tidak ada kekuatan dari peradaban manusia yang lebih ampuh daripadakata, bahasa, piranti budaya yang sanggup mewakili pikiran yang dikcindung otak dan perasaanyang dikandung hati. Adalah kata yang dapat membual benci dan perang, serta kata pula vangdapat membuat cinta dan damai. Puisi yang bersandar pada kata, sebab puisi percaya pada nilaitembus ruangnya kata. Bagaimana pendapat kalian?"Sang pelakon menjawab.Yang menjawab sang pelukis. "Baik ."Karena sang pelakon diam, sang penyair pun bertanya kepadanya, "Bagaimana pikirandan perasaannmu melihat buyung itu? Apakah kamu tidak terharu dan iba melihat nasibnya?"Jawab sang pelakon, 'T id ak . Aku pun pernah menjadi seperti itu. Dan, orang-orang yangmenyaksikan aku, semua memberi aplaus, tepuk tangan apresiasi, memuji aktingku. Ketika akumelakukan aktingku itu, aku memerintah ilham, memanfaatkan alat-alat tuhuhku, roh dan jiwa,untuk membuat diriku benar benar meyakinkan seperti itu. Sebelum sanggup melakukan itu,terlebih dulu aku melakukan observasi kejiwaan dalam tiga cara, yaitu introspeksi: mengamatiproses penghayatan atas kejadian yang sudah berlangsung di dalam diri; ekstrospeksi:mengamati proses penghayatan atas kejadian yang sudah berlangsung di luar diri; retrospeksi:mengamati sambil menghayati proses kejiwaan yang sedang berlangsung di dalam diri. Hasilobservasi ini aku simpan di dalam suatu wadah dalam tubuh-roh-jiwa yang aku sebut ’modusk reatif sebagai sukucadang ilham. Begitu aku membutuhkannya, aku panggil untuk membajudiriku, mencipta aktingku. Ini yang aku maksudkan tentang kemampuanku memerintah ilhamBukan menunggu ilham."
MENCARI DAN TIDAK MENEMUKAN REMY SYLADO
Extension Course Filsafat ( ECF ) No. 1 (2015): ECF Filsafat Uang
Publisher : Fakultas Filsafat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/ecf.v0i1.1985.%p

Abstract

"No onewould have remembered the Good Samaritan if he'd only had good intentions. He hadmoney as well.” (Margaret Thatcher)