Kekeringan terparah di Eropa terjadi pada tahun 1976 dan tahun 2003, dengan kerugian yang ditimbulkan tidaklah sedikit. Beberapa kajian yang pernah dilakukan mengindikasikan bahwa aliran panas yang terjadi pada tahun-tahun tersebut menyebabkan naiknya intensitas kekeringan yang terjadi. Oleh karena itu kajian ini dilakukan untuk melihat hubungan antara aliran panas dengan kekeringan, serta korelasinya dengan perubahan iklim dan muka air tanah. Analisis dilakukan dengan data dari hasil simulasi model iklim global dan data pengamatan di lapangan. Kajian ini menggunakan indeks kekeringan SPI (Standardized Precipitation Index) dan SPEI (Standardized Precipitation Evaporation Index) untuk mengetahui besaran kekeringan. Hasil dari kajian ini menyimpulkan bahwa tidak turunnya hujan yang terjadi pada musim semi dan diperpanjang hingga musim panas merupakan salah satu penyebab naiknya suhu udara ekstrem dan menyebabkan kekeringan dengan korelasi negatif R2=0.7-0.8. Hasil yang hampir sama juga diperoleh dari studi yang dilakukan di Indonesia. Kekeringan yang di analisis dengan metode SPEI indeks memberikan hasil analisis kekeringan yang berbeda daripada metode SPI jika terjadi perbedaan suhu udara yang cukup nyata. Dalam studi ini terdapat perbedaan indeks hingga 0.5 antara SPEI dan SPI. Dengan adanya pemanasan global dan terus meningkatnya suhu udara di masa yang akan datang, maka bukan tidak mungkin intensitas dan jumlah kejadian kekeringan yang terjadi akan semakin meningkat.
Copyrights © 2015