Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Geological And Rainfall Condition As Landslide Causative Factors In Shoutern Part Of Central Java In Juni 2016 Rokhmat Hidayat; Samuel Jonson Sutanto; Moh. Deddy Munir
JURNAL TEKNIK HIDRAULIK Vol 7, No 2 (2016): JURNAL TEKNIK HIDRAULIK
Publisher : Pusat Litbang Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1441.874 KB) | DOI: 10.32679/jth.v7i2.565

Abstract

On June 19, 2016, landslides occurred in some areas located in the South Central Java (Purworejo, Kebumen, and Banjarnegara). One day before the incident, there was a high intensity of rainfall in the surrounding areas. A study of the geological conditions as well as the characteristics of rainfall triggering those landslides has been carried out. Field investigations, geological analysis, and dailly to hourly rainfall analises have been conducted. Moreover, some necessary mitigation measures are discussed. The results of this study show that the main type of landslides is consisted of loosened components included in translational slides. The contact zone between weathered bedrocks and materials above causes the landslides. A porous soil in the top layer with fresh rock underneath may potentially be a sliding plane of this landslide. The different in soil thickness produces different landslide volume. Rainfall intensity during the landslide was 100-323 mm/day with intensity of 16-22 mm/hour for about 5 hours. Landslides occurred on the steep areas with slopes between 25-35. Generally, there are several measures that can be applied at the landslide sites, such as relocation of communities affected by landslides, and simple Early Warning System installed with rainfall sensor-based equipment
Global Transpiration Fraction Derived From Water Isotopologue Datasets Samuel Jonson Sutanto
JURNAL TEKNIK HIDRAULIK Vol 6, No 2 (2015): JURNAL TEKNIK HIDRAULIK
Publisher : Pusat Litbang Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3643.999 KB) | DOI: 10.32679/jth.v6i2.520

Abstract

Transpirasi sebagai salah satu komponen dari evapo-transpirasi memberikan kontribusi aliran masa yang besar dari permukaan tanah. Banyak metode telah di aplikasikan untuk menghitung besarnya komponen-komponen evapotranspirasi ini. Sebagian besar kajian dilakukan pada skala lokal maupun regional dan hanya ada sedikit kajian yang menghitung besarnya transpirasi secara global. Transpirasi global yang dihitung baik dengan model maupun dengan teknik isotop menghasilkan nilai transpirasi yang rendah untuk model dan tinggi untuk teknik isotop dibandingkan dengan pengukuran. Hal ini mengindikasikan bahwa berapa nilai yang akurat dari transpirasi global masih merupakan tantangan. Oleh karena itu, kajian ini bertujuan untuk menghitung besarnya transpirasi global dan penguapan dari tanah dengan menggunakan teknik isotop yang datanya diambil dari hasil model GCM yang dilengkapi dengan modul isotop. Hasil perhitungan dengan teknik isotop nampak menjanjikan dengan nilai fraksi transpirasi sebesar 80% pada daerah yang ditumbuhi tanaman, and lebih rendah dari 50% pada daerah gurun. Fraksi transpirasi global dari hasil perhitungan adalah sebesar 69% dengan 43% air hujan yang jatuh menguap kembali ke atmosfer melalui transpirasi tanaman. Meskipun metode keseimbangan masa isotop dapat diaplikasikan ke TES satelit data, fraksi transpirasi yang dihasilkan masih menunjukkan adanya masalah pada resolusi data yang dihasilkan. Dengan adanya peningkatan resolusi satelit pada masa yang akan datang, perhitungan komponen-komponen evapo-transpirasi dengan menggunakan data isotop akan lebih akurat
EVAPOTRANSPIRATION CALCULATION AND DETERMINATION OF EVAPORATION EFFECT IN THE SOIL USING STABLE ISOTOPES (18O AND 2H) AND HYDROMETRIC MEASUREMENTS Samuel Jonson Sutanto
JURNAL TEKNIK HIDRAULIK Vol 2, No 2 (2011): JURNAL TEKNIK HIDRAULIK
Publisher : Pusat Litbang Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (763.921 KB) | DOI: 10.32679/jth.v2i2.252

Abstract

DRONE TECHNOLOGY FOR CONTOUR MAPPING: CASE STUDY AT P3SON HAMBALANG Samuel Jonson Sutanto; Banata Wachid Ridwan
JURNAL TEKNIK HIDRAULIK Vol 7, No 2 (2016): JURNAL TEKNIK HIDRAULIK
Publisher : Pusat Litbang Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1353.76 KB) | DOI: 10.32679/jth.v7i2.567

Abstract

Fast, reliable, and accurate topography measurement is needed for a study and evaluation of P3SON Hambalang area. Experimental Station for Sabo, therefore, was given a mandate to perform the topography measurement. Measurement has been carried out using fotogrammetry technique of remote sensing photos captured by drone. The results of drone measurement are Digital Surface Model (DSM), Digital Terain Model (DTM), and the final result is a contour map, which have high resolution data of 5 cm. The whole processes starting from field measurement until final results are obtained require around 4 to 5 working days, without any significant obstacles during both measurement and analysis. Due to the high-resolution result, fast, and cheap, it is foreseen that fotogrammetry technique using drone will be used more often in the future for topography measurement. However, drone topography measurements experience a difficulty in the non-vulkanic rivers (river with water table). The riverbed cannot be well measured by drone, especially for the rivers with high sediment concentration such in general rivers in Indonesia.
DESIGN AND PRELIMINARY STUDY OF SUBSURFACE DRAINAGE IN HAMBALANG COMPLEX BOGOR Rokhmat Hidayat; Samuel Jonson Sutanto; Santosa Sandy Putra
JURNAL TEKNIK HIDRAULIK Vol 7, No 1 (2016): JURNAL TEKNIK HIDRAULIK
Publisher : Pusat Litbang Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7994.899 KB) | DOI: 10.32679/jth.v7i1.557

Abstract

The Pusat Pendidikan Pelatihan dan Sekolah Olah Raga Nasional (P3SON) construction project was conducted at Hambalang, Sentul, Bogor, West Java. The project area covers 32 hektares. The P3SON project is located at a small mountain, called Gunung Hambalang, which has steep slope and thick clay layer. Generally, Hambalang morphology has a slope of about 1045, and at some places the buildings are built on steep slopes with the degree of steepness more than 45. Based on to the bore log, the rock profile is silt rock with the deepness of 0-6 m, and under 6 m, there is a hard clay layer. Clay layer if it is in contact with water will become impermeable and thus swell. During the high intensity rainfall event, the landslide risk is high. In order to strengthen the slope stability, an outer subsurface drainage at the East side and also horizontal subsurface drainage system in the area itself are proposed. The twin iron pipes are designed for the East side drainage system with the diameter of 20-35 cm and laid 5 m under the surface elevation. Technically, there are fifteen locations that need horizontal drainage installation. Horizontal drainage pipes are designed with 10 cm diameter and 8 m interval between pipes. The length of the horizontal drainage pipes is 15-20 m with slope of 10. Due to the fact that the silt layer depth is 0-6 m, then the horizontal drainage pipes will be located in 3-5 m depth from the surface. Optimistically, this system will reduce the landslide risk in Hambalang area.
Analisis Kekeringan Di Beberapa Negara Eropa Dengan Menggunakan Data Dari Model Iklim Global Dan Di Indonesia Menggunakan Data Hujan Samuel Jonson Sutanto
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 11, No 1 (2015)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32679/jsda.v11i1.109

Abstract

Kekeringan terparah di Eropa terjadi pada tahun 1976 dan tahun 2003, dengan kerugian yang ditimbulkan tidaklah sedikit. Beberapa kajian yang pernah dilakukan mengindikasikan bahwa aliran panas yang terjadi pada tahun-tahun tersebut menyebabkan naiknya intensitas kekeringan yang terjadi. Oleh karena itu kajian ini dilakukan untuk melihat hubungan antara aliran panas dengan kekeringan, serta korelasinya dengan perubahan iklim dan muka air tanah. Analisis dilakukan dengan data dari hasil simulasi model iklim global dan data pengamatan di lapangan. Kajian ini menggunakan indeks kekeringan SPI (Standardized Precipitation Index) dan SPEI (Standardized Precipitation Evaporation Index) untuk mengetahui besaran kekeringan. Hasil dari kajian ini menyimpulkan bahwa tidak turunnya hujan yang terjadi pada musim semi dan diperpanjang hingga musim panas merupakan salah satu penyebab naiknya suhu udara ekstrem dan menyebabkan kekeringan dengan korelasi negatif R2=0.7-0.8. Hasil yang hampir sama juga diperoleh dari studi yang dilakukan di Indonesia. Kekeringan yang di analisis dengan metode SPEI indeks memberikan hasil analisis kekeringan yang berbeda daripada metode SPI jika terjadi perbedaan suhu udara yang cukup nyata. Dalam studi ini terdapat perbedaan indeks hingga 0.5 antara SPEI dan SPI. Dengan adanya pemanasan global dan terus meningkatnya suhu udara di masa yang akan datang, maka bukan tidak mungkin intensitas dan jumlah kejadian kekeringan yang terjadi akan semakin meningkat.
Hydrological, Geological And Chemical Assessment Of Bouinenc Catchment, South Of France Samuel Jonson Sutanto
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 6, No 2 (2010)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1745.13 KB) | DOI: 10.32679/jsda.v6i2.410

Abstract

Bouinenc catchment assessment has been carried out during field work in the South of France. This catchment assessment consists of field surveying, data collection, measurement, processing, and analysis based on hydrology, geology and chemistry condition. Moreover, EC routing has been done in this catchment along the Bouinenc. Result shows that during the observation period (June 1st until June 8th, 2010), the discharges are decreasing both in Upstream (Chap village) and in the Downstream. EC values at measurement location in downstream are increasing and have diurnal cycle depend on temperature. The potential evapotranspiration varies from above 4 to 7 mm/day during the measurement. Based on the geology map and survey, the majority of this study area is black marls and limestone formation from the Jurassic period. The springs are mainly located in the contact zone of the different layers and also in some cases due to faults. Water type in this area primarily is calcium bicarbonate from the marls and limestone formation. EC routing result shows that there is no significant interaction between surface water and groundwater. In addition, discharges from tributary rivers are not sufficient to influence the main river.
Two Simple Methods To Analyze Design Flood Hydrograph Using Discharge Data Only: Study Case Rhone Downstream Samuel Jonson Sutanto
JURNAL SUMBER DAYA AIR Vol 11, No 2 (2015)
Publisher : Bina Teknik Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32679/jsda.v11i2.107

Abstract

Hilir sungai Rhone mempunyai berbagai macam permasalahan dalam bidang sumber daya air dengan salah satu diantaranya adalah banjir. Permasalahan banjir dapat diatasi dengan adanya perencanaan yang baik dan pekerjaan pengendalian banjir, akan tetapi kegiatan penanggulangan banjir memerlukan data hidrograf banjir rencana dimana data tersebut sangat sulit diperoleh. Metode yang sangat umum digunakan untuk mendapatkan hidrograf banjir rencana, misalkan metode hujan-limpasan, memerlukan data hidrologi yang cukup banyak. Oleh karena itu dalam makalah ini akan ditampilkan perbandingan dari dua buah metode untuk mendesain hidrograf banjir rencana dengan cara yang mudah dan memerlukan data yang sedikit. Dua buah metode tersebut adalah metode grafis dan metode hidrograf banjir sintetik. Hasil analisis dari kedua buah metode tersebut menunjukkan bahwa kedua metode tersebut mudah digunakan, sederhana dan hanya memerlukan data debit. Perbandingan dari kedua metode tersebut menunjukkan bahwa metode grafis memberikan hasil yang lebih baik daripada metode hidrograf banjir sintetik baik dari segi bentuk dan puncak hidrograf banjir.