Aspek utama pengelolaan banjir berbasis masyarakat di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur adalah kesiapsiagaan dan tanggap darurat. Pengelolaan banjir ini merupakan kegiatan non struktural yang dilaksanakan di dua desa yaitu Kedung Sumber dan Semen Pinggir. Banjir yang terjadi di kedua desa tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Desa Kedung Sumber berada di Hulu Kali Pacal dengan banjir bandangnya sedangkan Desa Semen Pinggir di Hilir Kali Pacal dan merupakan pertemuan dengan Sungai Bengawan Solo dengan banjir genangannya. Makalah ini menyajikan kegiatan pengelolaan banjir yang menerapkan dua metode pendekatan sosial yang berbeda. Desa Kedung Sumber menerapkan Participatory Rural Appraisal (pedesaan), sedangkan Desa Semen Pinggir menerapkan Participatory Urban Appraisal (perkotaan). Kegiatan pengelolaan banjir ini terdiri dari identifikasi sejarah banjir, pembuatan peta ancaman banjir dan jalur evakuasinya, pembentukan organisasi siaga bencana, pembuatan prosedur tetap evakuasi korban banjir dan pengelolaan stasiun hujan telemetri yang mengirim SMS sebagai awal sistem peringatan dini banjir. Kesimpulan antara lain menunjukan bahwa metode pendekatan sosial yang tepat diperlukan dalam pelaksanaan survei sosial dan pelibatan masyarakat sebagai narasumber dan pelaku utama menjadi kunci keberhasilan kegiatan. Ada dua kelemahan dari kegiatan ini. Pertama, belum adanya evaluasi terhadap organisasi siaga bencana yang didirikan. Kedua, penekanan kegiatan diutamakan pada alat peringatan dini yang hanya berlaku di musim penghujan.
Copyrights © 2012