Abstrak: Al-Qur’an merupakan kitab terakhir sekaligus penutup dari kitab suci agama-agama samawi yang datang sebelumnya. Al-Qur’an juga menjamin akan terjaga dari berbagai macam distorsi dan reduksi kalimat-kalimatnya tidak seperti kitab suci agama samawi sebelumnya yang sudah terbukti mengalami banyak perubahan redaksi dari awal diturunkannya. Disamping itu Al-Qur’an sendiri juga merupakan mu’jizat; bahasa, sejarah, ramalan kejadian masa depan, ilmu pengetahuan dan yang lainnya. Hal tersebut merupakan pendapat mayoritas ulama dan para mufassir dari salaf hingga khalaf. Sir Syed Ahmad Khan, seorang pembaharu asal India, yang memiliki motivasi progresif terhadap ajaran Islam, melihat bahwa kemunduran umat Islam sangat dipengaruhi oleh cara pandang yang keliru, karena Islam selalu dilihat dari sudut pandang teologis, sebagai ajaran yang kaku dan tidak dinamis. Untuk menghadang arus konservatisme tersebut, Khan menekankan konsep tafsirnya pada rasionalisme. Khan menekankan pada tafsir rasional dan fakta-fakta ilmiah sehingga menafikan beberapa hal ghaib yang terkandung dalam al Qur’an; seperti Mu’jizat para nabi dam hal-hal serupa, termasuk kemu’jizatan al-Qur’an sendiri juga disangkal oleh Khan. Karena menurut Khan hal tersebut tidak bisa diterima oleh akal. Artikel ini menggunakan kajian literatur dalam mendeskripsikan konsep Khan dalam melihat I’jaz al-Qur’an yang kemudian dikomparasikan dengan pendapat beberapa mufassir baik salaf maupun khalaf.Kata kunci: I’jaz al-Qur’an, Rasionalisme, Syed Ahmad Khan
Copyrights © 2018