Selama ini pendekatan yang digunakan dalam menganalisis seni rupa berlangsung secara intraestetik (kritik formalis), sementara pendekatan yang bersifat ekstraestetik langka dilakukan. Melalui pendekatan ekstraestetik dapat dipahami faktor-faktor determinan yang menjadikan suatu ide dan karya seni terbentuk. Walaupun faktor determinan itu ada, bukan berarti sepenuhnya subjek yaitu perupa mengalami dominasi total dari struktur, sebagaimana dalam analisis Marxian, Saussurian dan Freudian, subjek tetap memiliki “ruang negosiasi” atas struktur yaitu melalui karya seninya. Penelitian ini hendak menjawab pertanyaan yaitu bagaimana subjek (perupa) menegosiasikan konstruksi identitas, seksualitas dan gender yang berlangsung pada masyarakatnya, dan bagaimana proses pencarian subjektifitasnya itu terjadi pada kasus seniman dan karya seninya, yaitu I Gak Muniarsih, Tita Rubi, FX.Harsono, Ay Tjoe Christine dan Nindityo Adipurnomo. Realitas dalam pandangan penelitian ini dipahami sebagai sesuatu yang relatif. Dikatakan relatif, pertama karena realitas terstruktur oleh faktor historis (ekonomi-politik) dan kedua, keterbatasan bahasa itu sendiri yang pada saat bersamaan menisbikan tampilnya subjek secara utuh. Bahasa bukanlah cermin realitas, akan tetapi bahasa─dalam pendirian psikoanalisis─justru menjadi penghalang keutuhan subjek, namun demikian bukan berarti perupa tidak ada dalam realitas, seturut Jacques Lacan, subjek menggunakan metafora dan metonimi yang tersedia dalam bahasa untuk menandai subjektifitasnya. Subjek, dalam hal ini perupa kemudian memberi tafsir dan melakukan negosiasi atas konstruksi identitas, seksualitas dan gender.
Copyrights © 2017