Tujuan penelitian ini adalah mengemukakan masalah prasangka gender dan emansipasi perempuan yang diwujudkan dengan keinginan untuk menyejajarkan kedudukan laki-laki dan perempuan, keinginan untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dalam keluarga dan masyarakat, dan pemberontakan terhadap adat yang mengokohkan subordinasi perempuan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Inferioritas perempuan (istri) kepada laki-laki (suami) walaupun kurang mewarnai novel belenggu yang disebabkan unsur modernitas, namun unsur tersebut tidak secara mutlak dan masih mewarnai dengan unsur tradisional atau adat istiadat. Teks yang mengandung makna menyenangkan dan melayani suami sekaligus sifat kepatuhan dan ketundukan istri kepada suaminya adalah tugas dan kewajiban istri. Hal ini digambarkan pada tokoh Tono (suami) menghendaki Tini (istri) sebagai perempuan yang tahu hak dan kewajibannya dalam rumah tangga. Perempuan yang tetap menyayangi suaminya, mencintainya dengan tidak merasa sebagai budak. Namun, yang diinginkan tersebut tidak ada pada tokoh Tini dan yang diinginkan Kartono adalah perempuan seperti Yah. Jelas di sini ketidaksalingmengertilah yang menerbitkan belenggu itu muncul menjadi perkara utama yang mendorong tokoh-tokoh tersebut menemukan dirinya sebagai karakter yang problematis.
Copyrights © 2017