Peristiwa PRRI telah berdampak terhadap pergerakan Islam di Minangkabau terutama bagi Muhammadiyah karena pada saat itu diidentikan oleh komunis dan sebagian pejabat dengan Masyumi. Muhammadiyah berada dalam kevakuman dan tekanan politik. Pimpinan dan aktifisnya nyaris meninggalkannya “ijok” ke luar. Mohammad Yatim dengan tidak berlatarbelakang pergerakan politik dan ulama berupaya menyelamatkan organisasi dan asetnya dari pendudukan dan pengambilalihan oleh pihak lain, pembelaan terhadap Muhammadiyah yang disuarakan oleh komunis untuk dilarang dan dibubarkan di Sumatera Barat dan mengkonsolidasikan Muhammadiyah pada tingkat cabang dan ranting yang berada di nagari-nagari dan kampung-kampung. Ia bergerak dari kampung ke kampung guna menghidupkan kembali Muhammadiyah dan amal usahanya yang sempat ditinggalkan oleh para pimpinannya. Dalam upaya dan perjuangannya itu ia, keluarga dan pendukungnya sering mendapat tekanan dan intimidasi dari berbagai pihak, tetapi ia tidak bergeming sedikitpun untuk surut dan menghentikan langkahnya. Ini adalah upaya ia merealisasikan pemikiran politik dan keyakinannya dalam menggerakan Islam melalui Muhammadiyah
Copyrights © 2017