Abstrak. Salah satu ciri bahasa ilmiah adalah penggunaan “tatabahasa teknis†yang bentuknya ditandai dengan penominalan atau nominalisasi. Bahasa ilmiah yang mengandung banyak penominalisasian akan sulit dipahami karena makna kongruen situasi dinyatakan secara inkongruen atau pilihan linguistik lain (Eggins, 1994: 63; Thompson, 1996: 165), yang menyebabkan teks menjadi semakin padat. Ciri bahasa ilmiah ini memenuhi kebutuhan untuk “memperlebar domain intelektual†(Wilkins, dikutip dari Halliday and Martin, 1993: 6). Melalui proses ini, pengetahuan umum (folk knowledge)—yang menyatakan pengetahuan dari peristiwa atau proses dinamis diubah menjadi sintesa atau hasil dari kegiatan. Dengan demikian, pengemasan isi klausa ke dalam kelompok kata benda, atau penominalan cenderung menjadi “technicalized†(Halliday and Martin, 1993: 8). Nominalisasi memiliki tiga fungsi dalam bahasa ilmiah: (1) menawarkan keringkasan (conciseness), (2) menawarkan aliran informasi secara dinamis karena informasi lama dinyatakan dalam kelompok nominal yang langsung dapat diikuti oleh informasi baru, dan (3) menjadi sarana efektif  bagi kategorisasi, pelabelan dan deskripsi fenomena (Eggins, 1994, Lock, 1996). Di sisi lain, nominalisasi memberi masalah dalam pemahaman bagi pelajar EFL karena mereka harus mengetahui bagaimana mengurai kelompok nomina yang padat dan menghindarkan makna ganda. Tujuan penelitian ini adalah membahas analisis nominalisasi secara sintaksis dan semantik. Data diambil dari 20 kalimat dalam artikel dari Jurnal Language Learning & Technology. Hasil penelitian menunjukkan empat (4) struktur nominalisasi dan variasi kombinasi klausal tertentu dalam penguraiannya. Penelitian ini menunjukkan bahwa nominalisasi meningkatkan makna tekstual, memaksimalkan potensi informasi, menghilangkan makna eksperiensial, abstraksi aktivitas dan perubahan dari aktivitas menjadi entitas. Kata kunci: academic writing, penominalan, analisis sintaksis dan semantik
Copyrights © 2012