ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT

MEMAKNAI FILOSOFI "TUT WURI HANDAYANI"

Supriyoko, Ki (Unknown)



Article Info

Publish Date
22 May 2010

Abstract

       Sekitar tiga belas tahun yang lalu atau tepatnya pada Bulan Desember 1983,  di Yogyakarta terjadi polemik mengenai pendidikan yang berfilosofikan  'tut wuri handayani' (TWH).  Polemik tersebut dipicu oleh pernyataan seorang dosen pada perguruan tinggi bahwa penyebab kurang berhasilnya pelaksanaan pendidikan nasional kita dikarenakan praktik pendidikan yang terlalu TWH.       Pernyataan yang kontroversial tersebut  segera mendapatkan tanggapan dari banyak pihak,  khususnya para praktisi pendidikan di lapangan.  Setelah melalui proses diskusi yang menarik akhirnya disimpulkan bahwa telah terjadi keliru pemaknaan terhadap filosofi TWH itu sendiri.  Dalam konteks pendidikan dan pengajaran bukan TWH-nya yang keliru  akan tetapi praktik pengajaran yang dilakukan di sekolah dan di kelas-kelas yang justru kurang mengaplikasi prinsip-prinsip TWH. Dengan kata lain kurang berhasilnya pelaksa-naan pendidikan nasional  justru dikarenakan para pengajar banyak yang meninggalkan prinsip-prinsip TWH.       Terus terang mulanya saya tidak tertarik membaca pendapat Prof.Dr. H. Ahmad Tafsir yang menyatakan bahwa filosofi TWH me-rupakan salah satu manifestasi dari budaya feodal yang menyebabkan "mandegnya" pendidikan nasional.  Adapun indikasinya antara lain murid tidak bisa melebihi gurunya, tidak mampu berkreasi dan berbeda pendapat yang pada akhirnya tidak bisa mandiri dan tidak dapat menjadi pesaing yang tangguh  (Pikiran Rakyat, 25/8/1999). Saya berpikiran positif; barangkali rekan wartawan salah kutip.       Ketika membaca tulisan Prof. Dr. Hj. Koesbandijah  di dalam artikelnya "Apakah Filosofi 'Tut Wuri Handayani' Itu Fedoal" (Pi-kiran Rakyat, 28/9/99) hati saya menjadi tergelitik. Jangan-jangan keliru pemaknaan terhadap filosofi TWH yang pernah terjadi tiga belas tahun yang lalu kini terulang lagi.

Copyrights © 1999